jurnalistik
yang dipimpinnya, menerima banyak keluhan dari sarjana S1. Keluhan
mereka yaitu tidak bisa menulis.
Kata DR. Deddy Mulyana, di negeri semisal Amerika, adalah kenyataan
aneh bila seorang dosen tidak bisa menulis. Dan apalagi bergelar
S2 atau S3. Dengan semangat tinggi, Bambang Trim mengutip sebuah
pernyataan dari pusat pendidikan AS, bahwa “semua ilmuwan
adalah sama, sampai satu di antara mereka menulis buku.”
Saya sepakat dengan Abu Al-Ghifari, kesulitan menulis bagi kaum
intelektual bukan terletak pada teori tulis menulis. Tetapi karena
malas mempraktekkannya. Kesimpulannya, siapa pun yang hanya mempelajari
teorinya saja, tidak akan pernah bisa menulis.
2.
Ide Sebatas Ide
Boleh jadi ide sudah berjumpalitan di otak kepala. Mungkin baru
saat ide ditemukan rasanya tiada duanya. Perkiraan ide belum ditulis
oleh penulis lainnya. Terbayanglah di benak kita ide ini paling
mutakhir bernilai jual tinggi.
Tetapi sayang, ide hanyalah bunga-bunga khayalan. Akhirnya, bunga-bunga
ide lesu dimakan waktu. Dan terkejutlah saat membaca tulisan yang
ide utamanya sama. Rugilah kalau ide sebatas ide.
3.
Menulis yang Tidak Disukai
Bicara mengenai tingkat kelancaran sekaligus kemandegannya, antara
komunikasi lisan dan tulisan terdapat kesamaan. Jalaluddin Rakhmat
dalam “Retorika Modern” (Rosda Karya, 1992) menjelaskan,
apa pun isi ceramah yang disampaikan ke khalayak akan menjadi menarik
bila materi itu dikuasai.
Lalu timbul kesimpulan, ceramah yang disampaikan, amat tidak menarik,
jika mengucapkan apa-apa yang tidak dikuasai.
Begitu pula dengan tulis menulis. Nulis apa saja kalau kita menguasai
materinya pasti lancar meski tidak bebas hambatan. Sebaliknya, nulis
apa pun sekiranya materi tidak dikuasai, niscaya menemui kemandegan
atau kebuntuan.
Jangan cuma karena ingin gagah-gagahan, kita menulis bahasan yang
sebenarnya kita tidak memahami. Contoh: kita hendak menulis tentang
Pemilu (Pemilihan Umum). Sementara pengetahuan mengenai Pemilu tidak
memadai bahkan masih terbilang buta. Maksudnya, jangan memaksakan
diri.
Setiap penulis memiliki spesialisasi ilmu yang khas. Jangan terjebak
pada arus gemuruh emosi sesaat. Ukurlah kemampuan diri.
4.
Cepat Puas
Tidak sedikit penulis pemula yang tulisannya berhasil dimuat media
massa. Tidak cuma lokal, bahkan ada yang menembus media berskala
nasional.
Namun sangat disayangkan, mereka cepat sekali merasa puas dengan
capaian seperti itu. Mereka terlena dengan satu, dua tulisan yang
dimuat dibangga-banggakan di setiap waktu dan diedarkan ke setiap
forum pertemuan. Tentu saja bangga itu boleh, tetapi bila dalam
waktu yang cukup lama kemudian tidak lagi menulis, nanti akan lupa
bagaimana caranya menulis. Akibatnya sulit lagi untuk menulis.
Cepat puas dalam konteks ini dapat menimbulkan kemacetan total.
Sayang, padahal sudah terbukti mampu menulis.
5.
Ingin Cepat Populer
Para penulis pemula utamanya punya kebiasaan buruk, yakni ingin
cepat popular. Terkadang lupa bahwa ketenaran, kepopularan, keterkenalan
memerlukan proses waktu yang panjang dan perjuangan sangat keras.
Tidak cukup dalam waktu singkat sebab profesi menulis bukan pekerjaan
instan.
Tidak adil jika kita menuntut diri dengan harapan sosial yang tak
proporsional. Robert B. Downs penulis “Buku-buku yang Merubah
Dunia” (PT. Pembangunan Djakarta, 1959) mengungkap, banyak
para penulis yang menggerakkan sejarah menulis di usia paruh baya
atau tua: 44-54 tahun. Dua di antaranya, Thomas Paine dan Adolf
Hitler (lepas dari kejahatannya). Paine dinilai sebagai pelopor
kemerdekaan Amerika dengan karyanya “Pikiran Sehat (Common
Sense).” Sedangkan Hitler penulis “Perjuanganku (Mein
Kampf)” begitu kuat mempengaruhi gerakan komunis.
Hikmah yang kita petik adalah meraih popularitas perlu waktu panjang.
Penulis yang tidak tahan proses, jelas akan gagal.
6.
Macet Terjebak Honor
Bagi penulis senior, apa lagi yang idealis, kegiatan menulis tidak
lagi (terutama) untuk mencari honor. Buat mereka yang terpenting
ide sudah tersebar. Memasarkan ide ke lebih banyak orang dan kalangan.
Berbeda dengan penulis pemula, yang dicari adalah honor berupa uang.
Kelompok kedua jelas lebih banyak jumlahnya, ketimbang kelompok
pertama.
Di bulan Oktober 1996, dua tulisan saya dimuat sebuah harian lokal.
Senang bukan bikinan. Selang seminggu, setelah pemuatan tulisan
kedua, saya menghubungi bagian yang bertugas mengurusi honor. Waktu
itu saya kecewa berat, karena katanya tidak ada honor untuk penulis
luar. Sifatnya hanya menyumbang naskah. Petugas itu mohon maaf ditambah
basa-basi sedikit. Saya pun segera tahu, dan sangat memaklumi koran
lokal yang memuat tulisanku, sedang berjuang keras memperpanjang
umurnya. Cerita yang sama dialami Toha Nasrudin, nama lahir Abu
Al-Ghifari sewaktu saya berkunjung ke Mujahid Press. Ia menyatakan,
“tulisan saya sudah 20 judul tidak dihonor oleh media yang
sama, tapi bukan uang sebagai tujuan.”
Pembaca Budiman, sekiranya Abu Al-Ghifari berhenti menulis gara-gara
tidak dihonor, pasti ia tidak seproduktif sekarang yang telah menulis
puluhan buku itu. Jika pembaca mengalami hal demikian, kecewa boleh,
tapi jangan dipelihara. Ambil positifnya saja. Dimuat pun sudah
beruntung.
7. Membesar-besarkan Kelemahan Sendiri
Bicara kelemahan, siapa yang terlepas dari kelemahan. Semua punya.
Jangan perbesar kekurangan. Apalagi kita umbar ke setiap orang.
Bisa-bisa yang mendengarkan jadi pusing dan jengkel.
Biasanya kelemahan itu berupa: tidak ada waktu, kurang referen,
tidak ada bakat menulis dan bukan keturunan penulis.
Begitu sering pengamat politik muda usia Eep Saefullah Fatah menulis
kolom saat menyetir. Caranya, Eep ngomong soal politik, sedang istrinya
mencatat yang dibicarakannya. Ada bekas menteri yang mengetik di
atas kendaraan. Hernowo mengaku bukan keturunan penulis. Ketiga
orang ini jelas memiliki kelemahan dalam mengolah tulisannya, namun
mereka tetap produktif.
Pembaca budiman, semakin meyakini lemah dan memperbesar kelemahan
dalam menulis, tambah dalamlah diri kita memasuki wilayah kegagalan
menjadi penulis.
By
Lilis Nihwan Samuranje
|