|
Penulis besar seperti Qurais Syihab, Toto Tasmara, Kartini Kartono,
Muh. Fauzil Adhim, dll (dalam jenis non fiksi) atau Helfi Tiana
Rosa, Izzatul Jannah, Asma Nadia, Mira W, dll (dalam jenis fiksi),
mereka semua adalah penulis-penulis buku best seller yang sebelumnya
adalah penulis artikel mumpuni yang artikelnya kerap menghiasi berbagai
media cetak.
Kepekaan seorang penulis artikel sudah teruji bertahun-tahun. Ketika
berkecimpung dalam penulisan buku, sudah memiliki bekal yang cukup
memadai. Dia akan mampu melihat dengan kaca mata bathinnya apa yang
tengah terjadi di masyarakat. Kemudian menggali dengan cermat, apa
sesungguhnya yang diinginkan masyarakat itu. Ibarat seorang pemanah
ulung, ia akan menumpahkan segala kemampuannya (yang telah teruji
itu) untuk membidik sasarannya. Hasilnya, buku-buku buah “tinta
emasnya” laku bak kacang goreng (best seller).
Seorang penulis artikel, secara otomatis (biasanya) telah memahami
kaidah bahasa Indonesia yang baik dan benar. Maka ketika menulis
buku, hal itu tidak aneh lagi. Ia akan mampu menyusun kata, kalimat
dan paragraf yang enak dibaca dengan tanda baca yang sesuai tempatnya.
Tulisannya mudah dicerna, mengalir laksana air pegunungan yang mengalir
deras, sejuk dan menyegarkan. Pada gilirannya, pembaca merasa senang
membaca keseluruhan buku itu, banyak hikmah yang dapat dipetik dan
tidak merasa dirugikan sekalipun harga buku itu cukup mahal untuk
ukuran “saku”nya.
Seorang penulis artikel, biasanya juga seorang yang berwawasan luas
(terutama pada bidang yang dispesialkannya). Mereka sudah terbiasa
membaca buku, surat kabar, majalah, dll. Sebagai rujukan untuk memperkuat
artikelnya. Maka ketika menulis topik tertentu untuk bukunya, mereka
tidak akan kesulitan.
Seorang penulis artikel, biasanya juga pekerja keras yang tak kenal
lelah. Mereka sudah terbiasa memeras otak dan duduk seharian di
depan komputer/mesin tik. Ibarat seorang pelari, ia sudah terbiasa
dengan panas dan hujan, jalan berliku dan lurus, atau jalan menanjak
dan menurun. Mereka sudah mengenal medan.
2 . Memahami Struktur Buku
Struktur atau anatomi buku jelas sangat beda dengan artikel. Buku
memiliki anatomi yang tersusun secara rinci. Sekalipun pada masing-masing
penerbit berbeda dalam memahami anatomi buku ini, namun praktenya
memiliki banyak kesamaan.
Memahami anatomi buku sangat penting, seorang penulis dengan sendirinya
tidak mempersulit diri sendiri dan penerbit. Penulisan buku yang
semau gue, tidak lengkap sesuai anatomi yang umum, sekalipun diterima
oleh penerbit, nantinya akan dikembalikan untuk dilengkapi.
Secara garis besar anatomi buku terbagi dalam tiga besar; pendahulu,
isi naskah, dan penutup (end matter). Tiga besar tersebut rinciannya
sebagai berikut:
a. Pendahulu (Preliminary pages/front mater)
Pendahulu (bukan pendahuluan) adalah halaman yang mendahului halaman
isi. Halaman ini hanya menginformasikan keberadaan isi buku yang
akan Anda baca. Sebagian penerbit memberikan nomor dan jenis angka
tersendiri pada halaman pendahulu ini (tidak satu rangkaian dengan
halaman naskah dan umumnya menggunakan angka romawi). Namun banyak
juga penerbit yang tidak membedakan hal tersebut.
Halaman pendahulu terdiri dari:
1) halaman pancir (lembar pertama setelah cover)
2) halaman judul (lembar kedua)
3) balik halaman judul (halaman copy right)
4) daftar isi
5) daftar pedanan kata (transilasi)
6) halaman persembahan
7) ucapan terima kasih
8) pengantar
9) Sambutan
Tidak semua penerbit menggunakan secara lengkap poin-poin tersebut
terutama halaman persembahan, pedanan kata, ucapan terima kasih,
dan sambutan semuanya disesuaikan dengan kebutuhan.
b. Isi Naskah Buku
Setelah pendahulu halaman, selanjutnya isi naskah atau menurut Sofia
Mansoor “daging buku”. Isi naskah buku berisi pembahasan
lengkap sebagai penjabaran dari judul. Isi naskah terbagi dalam
beberapa bab, sub bab dan pasal yang dimaksudkan untuk memisahkan
antara satu sub bahasan dengan sub bahasan yang lainnya. Di samping
itu untuk mempermudah pembaca memahami isi naskah. Adakalanya bab-bab
itu tidak ditulis, cukup menuliskan nomornya saja.
c. Penutup (end matter)
Penutup, end matter, atau back matter adalah halaman akhir setelah
halaman naskah. Halaman penutup ini umumnya terdiri dari:
1) lampiran
2( daftar pustaka
3) indeks
4) riwayat hidup penulis
Struktur buku di atas harus dipahami penulis. Buku yang dikirim
dalam kondisi lengkap, sangat memudahkan penerbit dalam mengolahnya.
3. Menguasai Masalah yang Ditulis dan Memiliki Sumber Rujukan
Lengkap
Sebagaimana penulisan artikel, maka penulisan buku pun sama harus
memahami topik yang dibahas. Jangan pernah sekali-kali menulis tentang
politik umpamanya jika tidak memiliki latar belakang dan pengalaman
dalam bidang politik. Atau menulis tentang pertanian sementara latar
belakang penulis dalam bidang peternakan, tentu akan sangat memusingkan
diri sendiri. Sebagaimana dibahas pada Bab I, hendaknya penulis
fokus pada spesialisasi ilmu yang dimiliki.
Berbicara buku-buku rujukan, jenis buku non fiksi jelas memerlukan
rujukan buku-buku yang memiliki kemiripan bahasan, atau setidaknya
ada keterkaitan dengan naskah yang tengah ditulis. Dimaksudkan agar
tulisan padat dan lengkap. Kredibilitas buku itu sendiri nantinya
diakui sebagai buku yang berkualitas karena menyertakan pendapat
dari penulis lainnya. Semakin banyak rujukan yang dipakai biasanya
semakin besar pula kepercayaan pembaca.
Walau demikian, orisinalitas dan gaya tulisan harus tetap terjaga.
Seorang penulis tidak boleh hanya mengandalkan rujukan atau meniru
gaya penulisan orang lain apalagi jika nyata-nyata menjiplak. Rujukan
hanya sekedar perbandingan untuk menambah perbendaharaan pendapat.
Pada gilirannya, penulis harus memiliki sikap tersendiri.
4. Memahami EYD
Sekalipun sudah terbiasa menulis artikel dan sudah memahami bahasa
Indonesia dengan baik, namun penulis buku harus memahaminya lebih
dalam terutama korelasi antar paragraf, efektivitas kata, dan kalimat.
Kata dan kalimat yang tidak efektif sehingga memberikan kesan bertele-tele,
hendaknya dibuang. Begitu pula tanda baca yang kurang pada tempatnya
agar diperbaiki. Sehingga buku tersebut mengalir, enak dibaca, tidak
kaku dan menjemukan.
Selain itu, seorang penulis harus mampu memilih kata (diksi) yang
tepat untuk tulisannya terutama untuk judul, sub judul atau pasal.
Pilihlah kata atau kalimat untuk judul bab, sub bab dan pasal yang
dapat merangsang pikiran atau menarik perhatian pembaca.
5. Memiliki Kepekaan
Tidak semua penulis memiliki kepekaan pemikiran. Dalam menjabarkan
suatu ide, banyak penulis yang hanya mengekor tanpa memiliki orisinalitas
ide. Seorang penulis yang peka, dapat melihat dengan mata bathinnya
sesuatu yang layak dituangkan dalam buku. Terkadang topik yang dituangkan
dalam buku itu sangat sederhana, namun begitu mengena di hati pembaca.
Tidak semua buku best seller itu buku yang berat, justru buku-buku
yang ringan, yang akrab dalam keseharian pembaca, kerap menjadi
buku yang laku keras.
Jadi jangan pernah asal-asalan dalam menulis. Efektivkan pikiran,
tenaga dan waktu Anda untuk pembahasan ide yang benar-benar tepat
sasaran.
6. Bermental Pejuang
Penulis buku yang cengeng, sering keluh kesah, dan kurang bersemangat,
sangat sulit bisa menjadi penulis yang sukses. Baru sekali bukunya
ditolak oleh penerbit, lantas frustasi. Padahal seorang penulis
ternama di Barat, pernah naskahnya ditolak oleh 600 penerbit. Setelah
diterbitkan oleh penerbit ke 600 itu, bukunya ternyata best seller.
Jika ia frustasi ketika ditolak oleh penerbit ke 500 umpamanya,
kini ia takkan menikmati hasil tulisannya. Anda pernah ditolak oleh
berapa penerbit? Beberapa naskah saya sendiri pernah ditolak oleh
hampir seluruh penerbit di Bandung, ketika naskah itu diterbitkan,
ternyata best seller.
Seorang penulis harus penuh optimisme, selalu bersemangat dan siap
menghadapi halangan dan rintangan dalam menulis buku. Kedepankan
profesionalisme dan kemahiran menulis dari pada sesuatu yang sifatnya
materi. Dahulukan kerja keras, hasil belakangan. Berprestasi dulu,
baru memetik hasil. Teruslah berlatih, jangan mudah putus asa karena
putus asa adalah racun bagi kesuksesan dan kesuksesan akan datang
hanya pada mereka yang berusaha mendapatkannya bukan pada mereka
yang hanya mengharapkannya.
Note:
Pemaparan
di atas sekedar dasar saja, jika Anda berminat menjadi penulis hebat
harus membaca "Peta Harta Karun" Klik link di bawah ini
By
Abu Al-Ghifari
|