|
Mesir merupakan bangsa yang pertama mengenal tulisan yang disebut
hieroglif. Tulisan hieroglif yang diperkenalkan bangsa Mesir Kuno
bentuk hurufnya berupa gambar-gambar. Mereka menuliskannya di batu-batu
atau pun di kertas papyrus. Kertas papyrus bertulisan dan berbentuk
gulungan ini yang disebut sebagi bentuk awal buku atau buku kuno.
Selain Mesir, bangsa Romawi juga memanfaatkan papyrus untuk membuat
tulisan. Panjang gulungan papyrus itu kadang-kadang mencapai puluhan
meter. Hal ini sungguh merepotkan orang yang menulis maupun yang
membacanya. Karena itu, gulungan papyrus ada yang dipotong-potong.
Papyrus terpanjang terdapat di British Museum di London yang mencapai
40,5 meter.
Kesulitan menggunakan gulungan papyrus, di kemudian hari mengantarkan
perkembangan bentuk buku mengalami perubahan. Perubahan itu selaras
dengan fitrah manusia yang menginginkan kemudahan. Dengan akalnya,
manusia terus berpikir untuk mengadakan peningkatan dalam peradaban
kehidupannya. Maka, pada awal abad pertengahan, gulungan papyrus
digantikan oleh lembaran kulit domba terlipat yang dilindungi oleh
kulit kayu yang keras yang dinamakan codex.
Perkembangan selanjutnya, orang-orang Timur Tengah menggunakan kulit
domba yang disamak dan dibentangkan. Lembar ini disebut pergamenum
yang kemudian disebut perkamen, artinya kertas kulit. Perkamen lebih
kuat dan lebih mudah dipotong dan dibuat berlipat-lipat sehingga
lebih mudah digunakan. Inilah bentuk awal dari buku yang berjilid.
Di Cina dan Jepang, perubahan bentuk buku gulungan menjadi buku
berlipat yang diapit sampul berlangsung lebih cepat dan lebih sederhana.
Bentuknya seperti lipatan-lipatan kain korden.
Buku-buku kuno itu semuanya ditulis tangan. Awalnya yang banyak
diterbitkan adalah kitab suci, seperti Al-Qur’an yang dibuat
dengan ditulis tangan.
Di Indonesia sendiri, pada zaman dahulu, juga dikenal dengan buku
kuno. Buku kuno itu ditulis di atas daun lontar. Daun lontar yang
sudah ditulisi itu lalu dijilid hingga membentuk sebuah buku.
Perkembangan perbukuan mengalami perubahan signifikan dengan diciptakannya
kertas yang sampai sekarang masih digunakan sebagai bahan baku penerbitan
buku. Pencipta kertas yang memicu lahirnya era baru dunia perbukuan
itu bernama Ts’ai Lun. Ts’ai Lun berkebangsaan Cina.
Hidup sekitar tahun 105 Masehi pada zaman Kekaisaran Ho Ti di daratan
Cina.
Penemuan Ts’ai Lun telah mengantarkan bangsa Cina mengalami
kemajuan. Sehingga, pada abad kedua, Cina menjadi pengekspor kertas
satu-satunya di dunia.
Sebagai tindak lanjut penemuan kertas, penemuan mesin cetak pertama
kali merupakan tahap perkembangan selanjutnya yang signifikan dari
dunia perbukuan. Penemu mesin cetak itu berkebangsaan Jerman bernama
Johanes Gensleich Zur Laden Zum Gutenberg.
Gutenberg telah berhasil mengatasi kesulitan pembuatan buku yang
dibuat dengan ditulis tangan. Gutenberg menemukan cara pencetakan
buku dengan huruf-huruf logam yang terpisah. Huruf-huruf itu bisa
dibentuk menjadi kata atau kalimat. Selain itu, Gutenberg juga melengkapi
ciptaannya dengan mesin cetak. Namun, tetap saja untuk menyelesaikan
satu buah buku diperlukan waktu agak lama karena mesinnya kecil
dan jumlah huruf yang digunakan terbatas. Kelebihannya, mesin Gutenberg
mampu menggandakan cetakan dengan cepat dan jumlah yang banyak.
Gutenberg memulai pembuatan mesin cetak pada abad ke-15. Teknik
cetak yang ditemukan Gutenberg bertahan hingga abad ke-20 sebelum
akhirnya ditemukan teknik cetak yang lebih sempurna, yakni pencetakan
offset, yang ditemukan pada pertengahan abad ke-20.
2. Buku di Era Modern
Di era modern sekarang ini perkembangan teknologi semakin canggih.
Mesin-mesin offset raksasa yang mampu mencetak ratusan ribu eksemplar
buku dalam waktu singkat telah dibuat. Hal itu diikuti pula dengan
penemuan mesin komputer sehingga memudahkan untuk setting (menyusun
huruf) dan lay out (tata letak halaman). Diikuti pula penemuan mesin
penjilidan, mesin pemotong kertas, scanner (alat pengkopi gambar,
ilustrasi, atau teks yang bekerja dengan sinar laser hingga bisa
diolah melalui computer), dan juga printer laser (alat pencetak
yang menggunakan sumber sinar laser untuk menulis pada kertas yang
kemudian di taburi serbuk tinta).
Semua penemuan menakjubkan itu telah menjadikan buku-buku sekarang
ini mudah dicetak dengan sangat cepat, dijilid dengan sangat bagus,
serta hasil cetakan dan desain yang sangat bagus pula. Tak mengherankan
bila sekarang ini kita dapati berbagai buku terbit silih berganti
dengan penampilan yang semakin menarik.
Bahkan sampai sekarang ini pun, di negara kita Indonesia, kendati
sedang diterpa krisis, kondisi ekonomi masih gonjang-ganjing, tapi
penerbit-penerbit buku malahan bermunculan. Banyak sekali jumlahnya,
hingga tak terhitung, sebab tak tersedia data yang dapat dipertanggungjawabkan.
Tidak juga di Ikatan Penerbit Indonesia [IKAPI]. Sebab tidak semua
penerbit bergabung dengan lembaga ini.
Namun, dari pengamatan sekilas saja, kita akan dapat segera menyimpulkan,
betapa penerbit-penerbit buku saat ini semakin banyak saja jumlahnya.
Tengoklah, di toko-toko buku yang ada di berbagai kota di negeri
ini, maka akan kita jumpai, berderet-deret bahkan bertumpuk-tumpuk
buku-buku baru terbit silih berganti bak musim semi dengan beragam
judul dan beraneka desain sampul yang menawan dari berbagai penerbit,
baik dari penerbit besar yang sudah mapan dan lebih dulu eksis,
maupun dari penerbit kecil yang baru merintis dan masih kembang-kempis.
Animo masyarakat pun terhadap buku nampak juga mengalami peningkatan.
Ini nampak dari banyaknya buku-buku bestseller yang laris manis
diserbu masyarakat.
Memang, dibanding dengan jumlah penduduk Indonesia yang nyaris 200
juta orang, sungguh mengherankan bahwa sebuah judul buku yang laku
beberapa ribu saja sudah terasa menyenangkan dan dianggap bestseller.
Akan tetapi, kondisi ini tentu jauh lebih baik bila dibanding dengan
tahun-tahun sebelumnya.
Bagi seorang muslim da’i yang memiliki komitmen dengan dakwah,
kondisi di atas akan dimanfaatkan untuk kepentingan dakwah. Menulis
buku-buku bernuansa dakwah adalah pilihan yang sudah selayaknya
untuk dilakukan. Agar buku benar-benar menjelma fungsinya sebagai
pencerdas dan pencerah umat, bukan sebaliknya.
By
Badiatul Muchlisin Astii
|