|
Ketiga, bandingkan dengan tulisan-tulisan lain yang dimuat.
Selera redaktur sangat menentukan. Dengan segala keobyektifan dan
kesubyektifan menjadi kata kunci. Karenanya, mempelajari tulisan
yang dimuat itu penting. Koran, tabloid atau majalah masing-masing
punya karakter tersendiri. Bila tulisan yang kita kirim sama “nafasnya”,
besar peluang untuk diterima.
Keempat, melengkapi sumber tulisan. Menambah banyak
warna pasti makin meriah. Sangatlah penting untuk membaca, mencatat,
atau memiliki ensiklopedi, info terkini, dan bahan-bahan (buku)
rujukan yang biasanya dijadikan sumber utama (standar).
Simak tulisan Jalaluddin Rakhmat. Kiai yang pakar komunikasi itu
jika membuat tulisan kaya dengan berbagai tinjauan. Misal, ia menulis
tentang “istiqomah”, tapi tidak sebatas menggunakan
dalil naqli (Al-Qur’an, As-Sunnah) saja. Beliau mengurai dengan
pendekatan sejarah, psikologi, logika, budaya dan data-data teranyar.
Sangatlah penting untuk membaca, mencatat atau memiliki ensiklopedia,
internet, media massa terbitan baru, info terkini dan bahan-bahan
(buku) rujukan yang biasa dijadikan sumber utama (standar).
Kelima, membebaskan tulisan dari teori baku. Memang
penulis pemula sangat meniru gaya idola penulis pujaanya. Kata Aristoteles,
meniru adalah awal dari sebuah seni.
Pada urutan kelima ini bukan berarti meniadakan teori-teori yang
sudah ada. Teori menulis yang sudah dipelajari tetap kita pertahankan.
Cuma jangan terpaku. Masih ada teori atau gaya lain. di luar negeri
terdapat teori bernama teori lingkaran. Belakangan antara lain dikenalkan
oleh DR. Dedi Supriadi. Untuk menuju ke titik tengah lingkaran,
kita boleh memasukinya dari garis mana saja. Sederhananya, banyak
cara untuk menulis. Keterkaitan dengan unsur emosi ini bisa membuat
tulisan lebih segar dan renyah. Contoh, biasanya dari umum ke khusus,
kita dapat memulai dari khusus ke umum.
Keenam, rutin menulis lagi. Sudah menjadi alasan
klasik untuk menyembunyikan diri dari ketidakberdayaan dalam olah
tulis menulis. “Waktu saya tersita, besoklah saya akan memulai”,
betapa sering kita mendengar kata-kata itu. Padahal mulanya menggebu-gebu
sesemangat 45.
Para penulis sukses di tengah kesibukannya menyediakan waktu khusus
unutk menulis. Ada yang sehari menulis 3 – 4 jam sehari.Yus
R. Ismail mengagumi rekannya seorang cerpenis belia aktivis Forum
Lingkar Pena (FLP). Ia menulis setiap dini hari usai shalat malam
sampai menjelang waktu shubuh. Hasilnya menakjubkan, kawan kita
ini (masih SMU) sudah menulis empat buku.
Ketujuh, adakah silaturahmi dengan para penulis
yang jadi atau milih profesi menulis sebagai pilihan mencari nafkah.
Langkah ini sangat membantu. Banyak yang menyangka orang tenar sulit
dihubungi. Benar, tapi bukan berarti tidak bisa sama sekali. Pasti
ada dan menerima kesempatan unuk kita. Kita mendapatkan berbagai
pengalaman dan ilmu yang menguatkan “ruh” semangat kepenulisan.
Saya pernah mengunjungi tempat aktivitas dan bertemu dengan sosok
penulis bergengsi negeri ini, antara lain: Emha Ainun Nadjib, Nurcholis
Madjid, Gola Gong, Amin Rais, Kuntowijoyo dan sejumlah penullis
kawakan yang berdomisili di Bandung. Alhamdullillah, dari beliau-beliau
saya memperoleh tambahan tenaga berlipat-lipat. Meski ratusan naskah
saya ditolak, saya bersyukur semangat dan kreativitas tulis menulis
masih terpelihara. Lumayan, sudah belasan media yang mempublikasikan.
Dan teramat yakin bilangan angka terus menanjak.
Tidak ada alasan untuk berhenti menulis. Cuma karena belum dimuat.
Menulis kembali dan kembalilah menulis. Penolakan naskah itu persyaratan
wajib bagi siapa saja yang ingin sukses menulis. Selamat menulis.
By
Lilis Nihwan
|