|
Oleh karena itu, semua orang yang bisa menulis telah memiliki potensi
menjadi penulis. Hanya potensi itu memang perlu dikembangkan. Ketika
sangat lancar menulis untuk catatan-catatan, kita juga mahir menulis
untuk diary perjalanan hidup kita, semua itu memang baru kreativitas
dan produktivitas menulis yang sajiannya diperuntukan bagi kalangan
sangat terbatas. Penulisan dari dan catatan, untuk dibaca sendiri.
Pekerjaan rumah dan tugas-tugas untuk dibaca guru atau dosen. Sementara
surat-surat juga dibaca hanya untuk orang yang kita kirim.
Lalu saat kita mencoba menulis untuk media massa, keterampilan menulis
yang dimiliki itu terasa bedanya. Ketika misalnya, kita kirim tulisan
dengan gaya menulis surat, atau gaya mengerjakan tugas, ternyata
tidak langsung dimuat.
Karena pengalaman demikian tidak jarang kemudian yang mengeluh,“Betapa
sulitnya menulis”. Kemudian muncul pertanyaan, “Apakah
menulis itu hanya untuk orang-orang yang berbakat?”.
Menjawab permasalahan tersebut, Abdul Hadi WM, menjelaskan bahwa
untuk kemahiran menulis bakat sebenarnya hanya mempengaruhi 5%,
keberuntungan 5%, sedangkan sisanya yang terbesar (90%) tergantung
kepada kesungguhan dan kerja keras. Sehingga tidak mengherankan
jika Wilson Nadeak mengatakan bahwa kemahiran menulis itu hanya
bagi yang membiasakan diri.
Hal demikian cukup masuk akal, sebab jika ditanyakan tentang bakat,
sebenarnya setiap orang yang telah bisa menulis pun pada dasarnya
telah memiliki bakat. Hanya tinggal mengembangkan, dari tulisan
yang biasanya hanya untuk dibaca sendiri atau dibaca dosen, kepada
tulisan yang bisa, enak, penting dibaca oleh umum.
Dengan demikian, kesungguhan dan kerja keras yang dibutuhkan sebagaimana
kata Wilson tadi, terkonsentrasi kepada, bagaimana kita menyiasati
perubahan gaya menulis untuk konsumsi pribadi atau konsumsi kalangan
terbatas, kepada konsumsi untuk dibaca umum. Hanya itulah sebenarnya
titik berangkat persoalan kita. Tidak terlalu banyak.
By
Aef Kusnawan
|