|
Rasanya tidak berlebihan saya menyebut mereka itu para penulis yang
diberi anugerah khusus oleh Allah SWT. Kenapa? Paling tidak mereka
sudah menulis dalam katagori usia dini. Selebihnya saya, Anda, dan
pembaca sekalian harus bekerja jauh lebih keras dan berlipat lagi
supaya dimuat. Insya Allah bisa.
Kita akan coba mengurai seputar naskah yang ditolak sambil mencari
alternatif untuk menyiasatinya (membijakinya) agar tulisan lebih
bagus dan kembali kita kirim ke media massa.
7 (Tujuh) Alasan Mengapa Naskah Ditolak
Pertama, naskah ketinggalan zaman dari segi sisi,
alias tidak aktual. Redaktur sangat berselera pada hal-hal yang
sifatnya baru, bahkan yang bernilai rekayasa. Bukan masalah basi.
Kedua, momenya tidak sesuai atau tepat. Mengirim tulisan
ke media tentang keutamaan Rhamdhan, sedang waktu mengirim pada
bulan Shafar.
Ketiga, penyajian berbelit-belit. Saharusnya sistematis.
Memiliki pemaparan yang menganut dan mengandung kebertahapan. Tidak
loncat sana, loncat sini.
Keempat, Tidak memakai tata bahasa yang berlaku. Kata lainnya
belum selaras dengan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD). Meski bukan
satu-satunya faktor.
Kelima, kalah bersaing dengan penulis lain yang
lebih kompeten. Bisa jadi penulis yang sudah punya nama. Walau bukan
jaminan orang tenar setingkat menteri tulisannya layak muat.
Keenam, jumlah halaman kebanyakan atau malah kurang.
Misal, untuk rubrik “Cerpen” hanya menerima 5-6 halaman.
Tetapi kita mengirim 8-10 atau 2-3 halaman. Jelas bikin bingung.
Ketujuh, dualisme judul. Kita membuat tulisan berjudul
“Perang di Afganistan”, pada saat yang sama pantas juga
dijuduli “ Perang di Palestina”. Judul demikian tidak
mencerminkan isi.
By
Lilis Nihwan
|