| Pembaca
budiman, kalau mau, kita mampu menambah lebih panjang daftar manfaat
menulis. Apa bisa? Seperti kata sebuah iklan, “bisa”.
Asal giat berlatih, banyak membaca, bekerja lebih keras lagi. Dan
lebih keras lagi.
Semakin kita dapat meraba keuntungan-keuntungan dalam menulis plus
memahami sejumlah kesulitan, maka insya Allah gairah menulis akan
terjaga, bahkan grafiknya tambah meningkat.
Berberapa upaya agar semangat mengolah tulisan makin bergairah.
1.
Membaca Mahakarya Penulis atau Pengarang Dunia
”Di belakang tiap kata berdiri suatu dunia, tiap orang yang
menggunakan kata harus menyadari bahwa ia menggoyang dunia”,
demikian tulis Hernowo mengutip pernyataan Heinrich Boll.
Saya setuju. Betapa memang manusia sangat dipengaruhi oleh kata-kata
yang didapatinya. Entah dengan membaca atau mendengar. Tentu saja
kekuatan bacaan lebih ampuh karena bisa dipelajari berulang-ulang,
walau dalam rentang waktu yang sangat jauh jaraknya, antara saat
kata-kata itu ditulis dengan dibaca.
Perubahan besar sejarah dunia, ternyata banyak digerakkan oleh kekuatan
bacaan. Kita tahu dalam sejarah Islam, hanya dalam waktu 22 tahun
2 bulan 22 hari semenanjung Arabia yang dihuni oleh masyarakat jahiliyyah
berubah total akhlaknya. Masyarakat yang gemar melecehkan kaum wanita,
menjadi penyayang dan pelindungnya. Pedang yang biasanya digunakan
untuk menyelesaikan masalah, diganti dengan solusi musyawarah. Sungguh
pun perubahan terjadi terutama karena keteladanan dari Nabi Muhammad
Saw.. tapi yang ingin saya tekankan adalah perubahan-perubahan besar
itu dimulai dengan perintah “membaca” (Lihat QS. Al-‘Alaq
[95]: 1-5).
Membaca dengan segala macam kandungan dan falsafahnya, telah sanggup
merubah peradaban. Kenyataan sejarah di orde yang berbeda kembali
membuktikan. Perubahan-perubahan dahsyat di pentas dunia dipelopori
oleh bacaan-bacaan atau tulisan-tulisan.
Seorang penulis produktif yang juga muballigh, yakni KH. M. Isa
Anshary (Allahu yarham), mengurai betapa hebatnya pengaruh tulisan
(bacaan). Saya tulis ulang pernyataannya dari buku “Mujahid
Dakwah” (Diponegoro, 1995).
“... Revolusi-revolusi besar di dunia, selalu didahului oleh
jejak pena dari seorang pengarang. Pena pengarang mencetuskan suatu
idea dan cita, menjadi bahan pemikiran pedoman berjuang. Revolusi
Perancis bergerak di bawah cahaya pikiran dan cetusan pandangan
yang dirintiskan oleh J.J. Rousseu dan Montesquieu. Revolusi Amerika
dibimbing oleh ‘Declaration of Independence’ (Fatwa
Kemerdekaan) yang sampai kini dijadikan pedoman besar oleh bangsa
Amerika. Revolusi Rusia dan perjuangan kaum komunis di seluruh dunia
dipimpin oleh ‘Comunistisch Manifest’, karya Marx dan
Engels. Nazi Jerman bergerak di bawah petunjuk buku Mein Kampf buah
tangan pimpinan mereka Hitler.
Revolusi Tiongkok berpedoman kepada San Min Chu I karangan Sun Yat
Sen. Revolusi Indonsia didahului oleh pemikiran-pemikiran revolusioner
dari Bung Karno, Hatta, Syahrir dan Tan Malaka. Pidato pembelaan
Bung Karno di muka pengadilan kolonial di Bandung ‘Indonesia
menggugat’ brosur revolusioner ‘Mencapai Indonesia Merdeka
(MIM)’, pidato pembelaan Bung Hatta di muka pengadilan Den
Haag yang berjudul ‘Indonesia Vrij’ dan buku kecilnya
‘Ke arah Indonesia Merdeka (KIM)’, tulisan-tulisan Syahrir
dalam ‘Daulat Rakyat’ tentang taktik dan straegi perjuangan,
buku-buku Tan Malaka yang diselundupkan dari luar negri, semua itu
telah menjadi aspirasi dan inspirasi bagi perjuangan kemerdekaan
tanah air. Renaissance Alam Islamy, gerakan reformasi dan modernisasi
Taimiyah, Jamaluddin Al-Afghani, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, Amir
Syakib Arsalan dan Abdurahman Al-Kawakibi. Pembinaan negara Islam
Pakistan didahului oleh buku-buku Mohammad Iqbal...”
Pembaca budiman, dengan membaca tulisan-tulisaan mahakarya penulis
kelas dunia, kita akan mendapatkan semacam ruh kekuatan untuk melahirkan
tulisan yang mengguncang dunia. Tentu saja ambil yang positifnya.
Pastikan kita mendapatkan hikmah dari proses kreatif mereka. Untuk
menuliskan pendapat dan pikiran saja, mereka banyak mengalami sederetan
penderitaan.
By
Lilis Nihwan
|