|
Seorang tukang kayu memergoki sang raja. Heran bin heran si tukang
kayu, karena kepala sang raja ternyata bertanduk. Begitu pun dengan
raja yang waktu itu membuka mahkotanya. Ia segera tahu bahwa, aibnya
sudah diketahui seorang rakyatnya. Raja berpesan agar tukang kayu
tidak menceritakan kejadian yang baru saja dilihatnya. Tukang kayu
berjanji tidak akan pernah cerita kepada siapa pun.
Benar, tukang kayu tidak pernah bercerita.Tetapi ia tidak tahan
lebih lama menyimpan keganjilan kepala raja. Akhirnya ia berteriak
seorang diri di hutan, “raja kita bertanduk”. Dalam
waktu singkat, seluruh penduduk kerajaan tahu, bahwa raja mereka
bertanduk. Ternyata, saat tukang kayu berteriak, “raja kita
bertanduk”, ada burung beo yang mendengarkan. Lalu burung
itu terbang sambil menirukan “raja kita bertanduk”.
Yang ingin saya sampaikan, sudah pasti kita mengalami masalah-masalah
berat, yang bisa disepadankan dengan tukang kayu. Meski wilayah
peristiwanya berbeda, tapi merupakan bagian dari proses menyembuhkan.
Masalah berat menjadi lebih ringan. Sebab, sudah ditumpahkan ke
dalam tulisan.
3. Honor
Pertama kali saya terima honor tulisan tahun 1993, dari tabloid
Hikmah termuat di rubrik kecil bernama “Mereka Bicara”.
Jumlahnya Rp. 7.500. Senang bukan bikinan. Waktu itu masih sekolah
di kelas III Madrasah Aliyah Negeri.
Saya tidak perlu malu untuk menyebutkan, bahwa honor tulisan itu
menggiurkan. Setidaknya untuk level pemula. Harus kita akui pula,
banyak penulis yang tidak begitu mempersoalkan honor. Kelompok ini
biasa disebut kaum idealis. Asal ide-ide sudah dibaca orang, cukuplah.
Saya pernah ngobrol dengan mantan seorang Pemimpin Redaksi sebuah
majalah lokal di Bandung, ia mengabarkan, dari hasil nulis resensi
saja adiknya sanggup menyelesaikan kuliah di sebuah perguruan tinggi
negeri di Yogyakarta. Menakjubkan.
Sepanjang tahun 1997-2002 ada beberapa tulisan saya yang dimuat.
Honornya mulai Rp. 50.000-Rp. 200.000 per tulisan. Jika dibandingkan
dengan honor di luar negeri, pasti honor penulis Indonsia tertinggal
sangat jauh. Sewaktu ceramah di Yayasan “Jendela Seni”
Pak Wilson Nadeak cerita, dengan hanya satu tulisan dimuat, di Eropa,
para penulis bisa membiayai hidup selama sebulan. Selain dibayar
mahal, sebuah tulisan dapat dipublikasikan ± sampai sepuluh
media lewat biro jasa.
Saya berani memperkirakan, beberapa tahun ke depan honor penulis
Indonsia kian membaik. Hal ini ditandai dengan munculnya banyak
media massa, yang berarti apresiasi masyarakat terhadap tulisan
makin bagus. Logikanya, nilai jual lebih tinggi lagi. Lahan bagi
penulis melebar.
4. Shadaqah Ilmu
Budayawan Gus Dur (KH. Abdurrahman Wahid) dalam “Tadarrus
Budaya”-nya kurang-lebih mengatakan begini, seorang faqih
bisa mendekati Allah dengan ibadah legal formalnya. Seorang seniman
bisa mendekati Allah dengan karya seninya dan seorang sastrawan
bisa mendekati Allah dengan karya sastranya.
Kalau kita panjang-lebar-luas-dalamkan, bisa lebih banyak lagi.
Dan saya ingin mengatakan, seorang penulis bisa menularkan ilmunya
lewat tulisan. Asal yang kita tulis untuk kemaslahatan.
Shadaqah ilmu lewat media tulis kenapa tidak? Bukankah menyebarkan
ilmu sangat diperintahkan oleh Allah dan Rasul-Nya. Meski satu ayat,
shadaqah ilmu lewat tulisan sangat strategis dari segi efektivitas
dan tabungan pahala untuk meraih ridha-Nya.
Renungngkan! Allah memberikan pahala bagi orang yang memberikan
jalan (petunjuk) kebaikan sebagaimana orang yang diberikan petunjuk
mengerjakan kebaikan. Semakin banyak ilmu yang kita sebar, maka
tambah banyaklah kemanfaatan yang diperoleh pembaca.
5.
Sebagai Warisan yang Membanggakan
“Gajah mati meninggalkan gading”. Pepatah usang ini
menyampaikan pesan sosial yang sangat berharga. Gajah saja yang
hewan menyisakan gading yang dapat dimanfaatkan oleh manusia.
Apa yang sanggup kita wariskan? Tanah, rumah, uang, mobil, tak ada
salahnya. Tetapi tidak sedikit warisan yang demikian mengakibatkan
permusuhan sesama saudara sekeluarga. Terkadang juga kurang mendidik.
Kondisinya sangat berbeda, jika saja yang kita wariskan adalah ilmu.
Warisan dalam tulisan (buku) punya nilai yang sangat membanggakan.
Warisan tersebut dapat membantu anak-cucu dan generasi setelah kita,
untuk mempertahankan sejumlah nilai luhur yang telah kita kerjakan,
sekaligus sebagai bahan guna menggali potensi yang ada.
6.
Menyadari Penuh bahwa Manusia itu Makhluk Penulis
Roesli Lahani Yunus meyakinkan kepada kita dengan sebuah kutipan
dari Emerson, perihal manusia sebagai penulis. “Manusia pada
hakikatnya adalah penulis. Apa yang ia lihat atau alami, ia jadikan
pola. Ia percaya, apa yang dapat dipikir, akan dapat pula ditulis,
lambat atau cepat. Dalam tiap pembicaraan, dalam tiap bencana, dalam
tiap peristiwa, dalam tiap perjalanan, ia dapatkan bahan baru untuk
tulisannya atau karangannya.”
Sealinea keyakinan di atas, kiranya dapatlah mengusir keragu-raguan
para penulis pemula, yang biasanya bertanya semacam ini, “mampukah
saya menulis?”
Bertolak dari potensi yang dimiliki manusia itu berbeda, baik perasaan,
temuan, kehobian, penyikapan mengenai sesuatu, sekiranya diolah,
maka menjadi tulisan yang beragam. Satu masalah yang muncul, cara
penyelesaiannya dengan beberapa alternatif. Solusi alternatif yang
kita miliki, merupakan bahasan tulisan yang bermutu tinggi karena
memiliki keunikan tersendiri.
Kata lainnya, menulislah dari apa yang kita rasakan, harapkan dan
renungkan. Bukan dari sesuatu yang berada di luar diri kita. Dari
titik ini pulalah penulis produktif semisal Hernowo dan Abu Al-Ghifari
lancar menulis. Setelah memulai dari diri sendiri, barulah mereka
mencari data-data pelengkap agar tulisannya menjadi lebih bertenaga
sekaligus dipercaya pembaca. Dan pada proses lebih lanjut, seorang
penulis akan berkata, “menulis itu sebenarnya indah.”
7.
Setiap Gaya Tulisan Ada Penggemarnya
Pembaca budiman, saya mengajak Anda untuk sedikit bermimpi. Tidak
banyak. Andai sejudul tulisan kita sudah selesaikan. Andai sebuah
naskah untuk ukuran buku telah kita rampungkan. Masihkah kita menyisakan
pertanyaan semodel “apakah tulisan bikinan saya laku di pasaran?”
Ibarat makanan, punya pengemarnya masing-masing. Yang satu hobinya
pecel lele, lainnya nasi goreng, sementara di tempat yang berbeda
kita temukan penikmat nasi liwet lengkap dengan sambal dan ikan
asinnya.
Betapa pun demikian kuat pengaruh penulis yang kita kagumi, mewarnai
gaya tulisan kita, saya setuju dengan Mohamad Fauzil Adhim, penulis
buku bernuasna “pernikahan” bahwa, selekasnya kita menemukan
gaya tulisan sendiri. Insya Allah, gaya tulisan yang kita peragakan
ada juga yang mengambil manfaatnya, alias Suka.
By
Lilis Nihwan
|