|
Terkadang sulit membayangkan, duduk di atas sedel sepeda bisa dilakukan
dengan tenang tanpa terjatuh, dan bahkan dapat mengayuh dengan santai
atau cepat.
Begitu pula belajar menulis. Ketika awal-awal menulis, terasa susah
bukan main.
Bagaimana mengawalinya, bagaimana menyusun kalimat yang “hidup”,
apa yang ditulis dan sejumlah pertanyaan-pertanyaan lain yang berkecamuk.
Tapi setelah bisa, menulis terasa mudah dan indah. Kata-kata mengalir
dengan mudahnya sehingga terangkai menjadi rangkaian kalimat yang
menawan. Karenanya, kunci bisa terampil menulis atau merangkai kata
memang terletak pada kontinuitas latihan (sehari-hari).
Lalu, apa saja kiat-kiat agar bisa terampil menulis ? Berikut ini
ada 7 kiat yang bisa dipraktekkan.
Pertama, hobi membaca buku. Pater Bolsius SJ, seperti
dikutip Wishnubroto Widarso dalam bukunya Pengalaman Menulis Buku
Non-Fiksi pernah berucap, “If you don’t read, you don’t
write”. Jikalau engkau tak (punya kebiasaan) membaca, engkau
tak bisa menulis.
Jose Daniel Parera dalam Konggres Bahasa ke-5 di Jakarta mengatakan,
banyak-banyaklah Anda membaca, biarkan ia mengendap dalam benak
Anda, suatu saat pemahaman Anda semakin luas, dan akan tiba saatnya
Anda harus menulis.
Hernowo, dalam bukunya Mengikat Makna menyatakan, ibarat Anda buang
hajat besar lantaran kekenyangan, seseorang akan gampang mengungkapkan
apa saja yang diingininya lewat tulisan. Jadi, membacalah sebanyak-banyaknya,
suatu ketika hasrat menulis akan timbul pada diri Anda secara alami.
Dan pengetahuan yang luas yang Anda dapatkan dari membaca akan memudahkan
Anda untuk menuangkannya ke dalam tulisan.
Kedua, membaca alam. Membaca tak semata-mata membaca
buku, tapi juga membaca alam. Fenomena alam akan menjadi inspirasi
sebagai bahan tulisan. Termasuk, membaca alam adalah membaca peristiwa
kehidupan. Di panggung kehidupan ini ada banyak peristiwa yang bisa
digali untuk bahan penulisan.
Ketiga, mempunyai buku harian. Ibarat pelari, perlu
jogging harian. Penulis juga begitu, memerlukan media untuk menuliskan
ide-ide yang bekerjapan dan lalu lalang setiap harinya. Maka, buku
harian merupakan media yang tepat untuk itu. Milikilah buku harian,
tulislah apa saja sepanjang hari. Hal itu akan berguna untuk mengasah
ketrampilan menulis dan melatih kepekaan kepada kata-kata. Selain
itu, menulis setiap hari di buku harian juga berguna untuk membangun
kepribadian. Seorang psikolog dan ahli terapi menulis, James Pennebaker,
menganjurkan, “Write your wroung !”.
Ke-empat, suka korespondensi. Menulis surat atau
korespondensi adalah latihan berkomunikasi secara tertulis yang
cukup efektif. Dalam menulis surat kita berlatih memilih kata-kata
yang pantas untuk pembaca. Dalam hal ini, pembaca bisa berarti teman
dekat, kenalan baru, orangtua, pejabat, maupun orang asing di tempat
jauh yang belum kita kenal.
Kelima, mencintai bahasa. Bahasa adalah alat komunikasi.
Dari bahasa, indikasi dari tingkat intelektualitas seseorang akan
tampak. Apakah dia seorang yang memiliki tingkat intelektualitas
yang tinggi atau tidak. Kekayaan kosakata-lah yang membedakaannya.
Karenanya, cintailah bahasa. Buka-bukalah kamus Bahasa Indonesia.
Ternyata ada banyak kata yang bagus yang dapat kita gunakan dalam
tulisan kita, tapi selama ini kita belum mengetahuinya karena itu
kita tidak menggunakannya.
Ke-enam, hobi meneliti. Minat meneliti merupakan
sarana yang akan semakin meningkatkan kedalaman dan luasnya jangkauan
tulisan kita. Ia akan menjadi inspirasi yang hebat untuk bahan tulisan
kita. Menurut Eka Budianta, sebelum menulis Ikan-ikan Hiu, Ido,
Homa, YB Mangunwijaya mendalami masyarakat Maluku dan pola hidup
Maritim di sana. Begitu juga novel Para Priyayi Umar Kayam, yang
ditulis dengan mengadakan berbagai penelitian dan dukungan perguruan
tinggi di Amerika Serikat.
Ketujuh, suka diskusi. Diskusi merupakan ajang
tukar pendapat. Dalam diskusi akan banyak pendapat dari luar diri
kita yang dapat menimbulkan letikan ide atau inspirasi untuk bahan
tulisan kita.
Itulah tujuh kiat yang bisa dipraktekkan. Prof. Dr. Floyd G. Arpan
mengatakan, “Kecakapan menulis tak akan begitu saja jatuh
dari langit. Tapi kecakapan itu baru bisa dicapai dengan jalan berlatih”.
by
Badiatul Muchlisin Asti
|