| Mengejutkan
bisa berakibat senang atau sedih. Yang penting mengejutkan, kita
perhatikan contoh-contoh berikut:
Mengutip sebuah penelitian, da’i kondang KH. Abdullah Gymnastiar
memberikan bahwa, 70% kaum remaja usia SMP-SMU pernah merasakan
zina. Peristiwa ini terjadi di sebuah kota besar negeri kita.
Contoh lain. Dengan memadukan teori Manajemen Qolbu dan enterpreneursip,
didukung lebih dari 300 santri perusahaan yang dikelola pesantren
Daarut Tauhid – Bandung. Meraup omzet sebesar 15 miliar per
tahun. Diperkirakan frekuensi kenaikan omzet terus meroket pada
masa-masa mendatang.
2.
Petikan Kitab Suci
Selain
sebagai gaya, metode, terdapat muatan khusus dan mendalam bagi penulis
yang memetik ayat Al–Qur’an atau As–Sunah di awal
artikel. Mereka memiliki falsafah bahwa setiap sesuatu harus berpijak
pada dalil. Sehingga dalam tulisan pun dalil naqli harus ditulis
terlebih dahulu. Pesan intinya hukum Allah sesuai dengan segala
dalil naqli punya pendapat yang sama.
3.
Kata Mutiara
Mutiara
dicari dan disenangi banyak orang. Termasuk mutiara dalam tulisan
atau kata mutiara. Pesona kata mutiara dapat mengakdai pembaca.
Walaupun kata-kata itu pedas karena menasehati pembaca.
Penulis sekaliber Jalaluddin Rakhmat sering mempraktekkan cara ini.
Dalam artikel-artikelnya. Beliau kerap kali mengutip ucapan-ucapan
sastrawan besar sayyidina Ali.
Kita simak kata mutiara dari Geothe yang dicuplik Hernowo dalam
“Kata Pengantar” panduan penyusunan naskah (Mizan, 2000).
“Apapun yang akan Anda lakukan atau impikan dapat Anda mulai
sejak sekarang. Di dalam keberanian mulai terpendam kejeniusan,
kekuatan dan keajaiban”.
4.
Humor
Manusia
senang dengan sesuatu yang lucu. Menimbulkan ger-geran. Cukup banyak
media yang memberikan ruang untuk humor.
Sapalah pembaca dengan guyonan segar, tapi mendidik. Dahulu sebelum
majalah tempo dibreidel (kemudian terbit kembali) seorang penulis
bernama Bondan Winarno seperti diakui Yosal Irantara (Dekan Fikom
Uninus), amat rajin menggunakan kata pembuka dengan anekdot. Misal:
Pisang apa yang kulitnya enak dimakan? Kemudian Bondan menjawab
pisang goreng. Nabi Muhammad Saw. pernah juga menginformasikan suatu
kebenaran dengan gaya guyon. (Baca kisah nenek yang tidak masuk
surga).
5.
Latar Sejarah
Menyapa
pembaca bisa juga dengan penyebaran latar sejarah. Menuturkan kronologis
tertentu yang berhubungan dengan masalah yang sedang ditulis. Boleh
kisah sendiri, para nabi, tokoh atau siapa saja. Misal: kita akan
menulis perihal “pentingnya tafakur”.
Sebelum Muhammad bin Abdul Muthalib diangkat menjadi Rasul, beliau
punya kebiasaan menyendiri di Gua Hira. Di tempat ini Nabi Saw.
melakukan perenungan berbagai hal.
6.
Kutipan Dialog
Dialog
bisa kita ambil dari kejadian sehar-hari, antara guru dan muridnya,
dua tokoh yang berdebat, percakapan keluarga dan seterusnya.
Perhatikan dialog Imam Ghozali (IG) dengan para santrinya (PS).
IG: “Apakah yang paling dekat dengan kita?”
PS: “Keluarga”
IG: “Benar, tapi ada yang lebih dekat dengan kita, yaitu kematian.”
IG: “Apa yang lebih jauh dari kita?”
PS: “Negeri Cina”
IG: “Benar, tapi ada yang lebih jauh dari kita, yaitu masa
lalu.”
IG: “Apa yang lebih ringan?”
PS: “Angin”
IG: “Benar, tapi ada yang lebih ringan, yaitu menunda shalat.”
7. Pertanyaan
Pertanyaan
mempunyai kandungan maksud untuk mengajak pembaca segera berpikir.
Keterlibatan pembaca terasa secara langsung. Cara ini cukup efektif.
Misal:
Apakah mahasiswa Indonesia senasib dengan mahasiswa Thailand, yang
awalnya dipuja-puja oleh rakyat Thailand? Tetapi kemudian hari para
mahasiswa itu dimusuhi oleh rakyat karena dianggapnya tidak mampu
merubah keadaan.
by
Lilis Nihwan
|