|
Misal, sebuah artikel berjudul “Utang Ibadah yang Mulia”
(MQ, Oktober 2003). Ditulis oleh Purdi E. Chandra seorang Presdir
Primagama Group. Ia menjelaskan, untuk berani membuka usaha walau
pun dengan jalan hutang. Kita perhatikan alinea penutupnya.
Utang bukan pantangan untuk mengembangkan usaha, mungkin sedikit
memelesetkan pesan Bung Karno menjadi “gantungkan utangmu
setinggi langit”. Dengan utang, kita bisa kembangkan bisnis
dan membuka peluang bekerja pada banyak orang. Itu sebuah ibadah
yang mulia. Jadi, tak keliru kalau saya berkeyakinan bahwa utang
untuk bisnis adalah sebuah ibadah yang mulia. Anda setuju?
2.
Mengajak Pembaca untuk Beraksi
Artikel
ditulis untuk mempengaruhi pembaca agar segera beraksi. Melakukan
hal-hal yang semestinya menurut penulis harus dilaksanakan. Contoh
ini bisa kita tiru dalam “Al-Aqsha, Nurani yang Terkoyak”,
tulisan ASM. Romli (MQ, Oktober 2003).
Selayaknya, paling tidak setiap peringatan Isra Mi’raj (27
Rajab) umat Islam memikirkan dan memprogram pola perjuangan bagi
pembebasan Yerusalem (Palestina), menumbuhkan rasa memiliki (sense
of belonging) terhadap Al-Aqsha di kalangan umat, sehingga rakyat
muslim di berbagai negara dapat mendesak pemerintahnya untuk bersatu
dengan pemerintah muslim lain, demi pembebasan Yerusalem. Wallahu
a’alam.”
3.
Do’a atau Harapan
Ada
kalanya artikel ditulis dengan nada permohonan atau harapan. Biasanya
tulisan semacam ini, dilatarbelakangi oleh berbagai kejadian sebelumnya
yang dianggap belum optimal.Namun bisa juga ditulis karena masa
depan yang akan diraih masih dalam tahap perhitungan-perhitungan
tertentu atau belum jelas.
Kita simak kata penutup tulisan H. Rachmat M.A.S berjudul “Benang
Hitam Khusus di Malam Gelap” (Pikiran Rakyat,15 September
2003).
Ya Allah Yang Maha Melindungi, lindungilah Bandung dan pemerintahannya
dari manusia-manusia yang berniat jahat mau mencari di atas penderitaan
rakyat. Ya Allah, ya Tuhan kami, berikanlah kebaikan dunia dan kebaikan
akhirat kepada kami dan lindungilah kami dari api neraka. Amiin.
4.
Kesimpulan dari Sudut Kronologios
Banyak
yang menulis artikel dengan cara beberapa judul kecil (sub jusdul).
Model ini, penutupnya, bisa menggunakan gaya dengan cara menuturkan
simpulan kronologis. Uraian sangat singkat batang tubuh tulisan.
Contoh demikian terdapat dalam “Relevansi Dakwah dan Toleransi
Beragama”, tulisan Yusuf Burhanuddin (Republika, 22 Agustus
2003). Yusuf membuat judul kecil dengan, “Epistomologi Dakwah”,
“Tujuan Dakwah”, dan “Realitas Kosmologis.”
Toleransi akhirnya menjadi keniscayaan sosial bagi seluruh umat
beragama dalam menata khidupan bersama. Dan bukanlah semata bertujuan
untuk meng’agama’kan seluruh segmen kehidupan melainkan
bagaimana mewujudkan kesejahteraan dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan
terutama dalam enghargai keragaman. Wallahu a’alam.
5.
Anekdot
Pesan:
kritik sosial, cukup efektif dengan menggunakan humor. Tidak keras,
tapi sasarannya tercapai serta mengena di hati pembaca.
Misal, kita menulis tentang “Rendahnya Budaya Berpikir di
Kalangan Masyarakat Indonesia”. Kita bisa menutup humor seperti
di bawah. Saya tidak tahu persis siapa pencipta anekdot ini.
Suatu saat di Jerman ada pameran otak. Otak yang paling mahal adalah
otak yang jarang digunakan untuk berpikir. Sebaliknya, otak yang
sudah rusak nilai jualnya rendah, sebab terus menerus digunakan
untuk berpikir. Otaknya difungsikan. Ternyata, seluruh pengunjung
pameran menyerbu stand Indonesia untuk membeli otak-otak orang Inonesia.
Karena otaknya masih utuh.
6.Dalil
Naqli
Tidak
sedikit penulis memilih gaya tulisannya dengan menuliskan tujuan
di akhir alinea. Tujuan tertinggi yaitu tujuan yang dianggap sesuai
dengan firman Allah atau sabda Rasul-Nya.
Misal, untuk menutup artikel bertema “Keutamaan Ilmu”,
kita akhiri dengan sabda Nabi Muhammad Saw. mengenai ilmu:
“Siapa yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari
ilmu,ia berada di jalan Allah. Dan tinta seorang pandai adalah daripada
darah seorang syahid.”
7.
Kutipan Seorang Praktisi
Menutup
artikel dapat juga dengan mengutip pernyataan tokoh tertentu. Sesuai
dengan bahasan yang kita garap. Menulis masalah hukum, ambillah
misalnya pernyataan dari Adnan Buyung Nasution. Tentang cerpen,
kutiplah Helvy Tiana Rosa. Masalah seputar perbukuan, kutiplah Bambang
Trim, dan seterusnya.
Contoh: kita mengurai tentang “Kebebasan dalam Menulis Puisi”.
Selama ini banyak tata cara dan formula menulis puisi. Kita ingin
bebas berekspresi dalam hal bahasa. Lalu kutiplah pernyataan penyair
“liar” Emha Ainun Nadjib yang mendukung isi tulisan
kita.
Puisi itu semacam bagian ruh dalam, suatu kesadaran atau suatu pengalaman,
yang bisa diungkapkan dengan berbagai jenis bahasa.
by
Lilis Nihwan
|