Strategi Menutup Artikel

 


Strategi Menutup Artikel

Ads by Google

Menutup artikel tidaklah sesulit membuat pembukanya (intro). Meski demikian, keduanya sama-sama penting. Bisa juga dengan menggunakan teori yang sama seperti teknik membuka artikel.

Bedanya, kalau pembuka, mengantarkan pembaca untuk memasuki emosi pemikiran penulis, sementara penutup artikel berfungsi sebagai penyampai gagasan utama, atau kabar kepada pembaca, bahwa tulisan sudah berakhir.

Bayangkan, bagaimana jadinya jika sebuah tulisan tidak ada penutupnya? Pasti hambar rasanya. Kita bisa menutup artikel dengan 7 hal berikut.

1. Menyampaikan Kembali Ide Pokok
Ide pokok sebenarnya sudah terurai di sebuah tulisan yang sedang digarap. Namun di alinea paling akhir, nyatakan kembali ide pokok itu. Cuma, dengan bahasa (kata-kata) yang berbeda. Tetapi muatan utamanya sama, sebagaimana tertuang dalam tulisan tersebut.


Misal, sebuah artikel berjudul “Utang Ibadah yang Mulia” (MQ, Oktober 2003). Ditulis oleh Purdi E. Chandra seorang Presdir Primagama Group. Ia menjelaskan, untuk berani membuka usaha walau pun dengan jalan hutang. Kita perhatikan alinea penutupnya.

Utang bukan pantangan untuk mengembangkan usaha, mungkin sedikit memelesetkan pesan Bung Karno menjadi “gantungkan utangmu setinggi langit”. Dengan utang, kita bisa kembangkan bisnis dan membuka peluang bekerja pada banyak orang. Itu sebuah ibadah yang mulia. Jadi, tak keliru kalau saya berkeyakinan bahwa utang untuk bisnis adalah sebuah ibadah yang mulia. Anda setuju?

2. Mengajak Pembaca untuk Beraksi
Artikel ditulis untuk mempengaruhi pembaca agar segera beraksi. Melakukan hal-hal yang semestinya menurut penulis harus dilaksanakan. Contoh ini bisa kita tiru dalam “Al-Aqsha, Nurani yang Terkoyak”, tulisan ASM. Romli (MQ, Oktober 2003).

Selayaknya, paling tidak setiap peringatan Isra Mi’raj (27 Rajab) umat Islam memikirkan dan memprogram pola perjuangan bagi pembebasan Yerusalem (Palestina), menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) terhadap Al-Aqsha di kalangan umat, sehingga rakyat muslim di berbagai negara dapat mendesak pemerintahnya untuk bersatu dengan pemerintah muslim lain, demi pembebasan Yerusalem. Wallahu a’alam.”

3. Do’a atau Harapan
Ada kalanya artikel ditulis dengan nada permohonan atau harapan. Biasanya tulisan semacam ini, dilatarbelakangi oleh berbagai kejadian sebelumnya yang dianggap belum optimal.Namun bisa juga ditulis karena masa depan yang akan diraih masih dalam tahap perhitungan-perhitungan tertentu atau belum jelas.

Kita simak kata penutup tulisan H. Rachmat M.A.S berjudul “Benang Hitam Khusus di Malam Gelap” (Pikiran Rakyat,15 September 2003).

Ya Allah Yang Maha Melindungi, lindungilah Bandung dan pemerintahannya dari manusia-manusia yang berniat jahat mau mencari di atas penderitaan rakyat. Ya Allah, ya Tuhan kami, berikanlah kebaikan dunia dan kebaikan akhirat kepada kami dan lindungilah kami dari api neraka. Amiin.

4. Kesimpulan dari Sudut Kronologios
Banyak yang menulis artikel dengan cara beberapa judul kecil (sub jusdul). Model ini, penutupnya, bisa menggunakan gaya dengan cara menuturkan simpulan kronologis. Uraian sangat singkat batang tubuh tulisan.

Contoh demikian terdapat dalam “Relevansi Dakwah dan Toleransi Beragama”, tulisan Yusuf Burhanuddin (Republika, 22 Agustus 2003). Yusuf membuat judul kecil dengan, “Epistomologi Dakwah”, “Tujuan Dakwah”, dan “Realitas Kosmologis.”

Toleransi akhirnya menjadi keniscayaan sosial bagi seluruh umat beragama dalam menata khidupan bersama. Dan bukanlah semata bertujuan untuk meng’agama’kan seluruh segmen kehidupan melainkan bagaimana mewujudkan kesejahteraan dan menegakkan nilai-nilai kemanusiaan terutama dalam enghargai keragaman. Wallahu a’alam.

5. Anekdot
Pesan: kritik sosial, cukup efektif dengan menggunakan humor. Tidak keras, tapi sasarannya tercapai serta mengena di hati pembaca.
Misal, kita menulis tentang “Rendahnya Budaya Berpikir di Kalangan Masyarakat Indonesia”. Kita bisa menutup humor seperti di bawah. Saya tidak tahu persis siapa pencipta anekdot ini.
Suatu saat di Jerman ada pameran otak. Otak yang paling mahal adalah otak yang jarang digunakan untuk berpikir. Sebaliknya, otak yang sudah rusak nilai jualnya rendah, sebab terus menerus digunakan untuk berpikir. Otaknya difungsikan. Ternyata, seluruh pengunjung pameran menyerbu stand Indonesia untuk membeli otak-otak orang Inonesia. Karena otaknya masih utuh.

6.Dalil Naqli
Tidak sedikit penulis memilih gaya tulisannya dengan menuliskan tujuan di akhir alinea. Tujuan tertinggi yaitu tujuan yang dianggap sesuai dengan firman Allah atau sabda Rasul-Nya.
Misal, untuk menutup artikel bertema “Keutamaan Ilmu”, kita akhiri dengan sabda Nabi Muhammad Saw. mengenai ilmu:

“Siapa yang meninggalkan kampung halamannya untuk mencari ilmu,ia berada di jalan Allah. Dan tinta seorang pandai adalah daripada darah seorang syahid.”

7. Kutipan Seorang Praktisi
Menutup artikel dapat juga dengan mengutip pernyataan tokoh tertentu. Sesuai dengan bahasan yang kita garap. Menulis masalah hukum, ambillah misalnya pernyataan dari Adnan Buyung Nasution. Tentang cerpen, kutiplah Helvy Tiana Rosa. Masalah seputar perbukuan, kutiplah Bambang Trim, dan seterusnya.

Contoh: kita mengurai tentang “Kebebasan dalam Menulis Puisi”. Selama ini banyak tata cara dan formula menulis puisi. Kita ingin bebas berekspresi dalam hal bahasa. Lalu kutiplah pernyataan penyair “liar” Emha Ainun Nadjib yang mendukung isi tulisan kita.

Puisi itu semacam bagian ruh dalam, suatu kesadaran atau suatu pengalaman, yang bisa diungkapkan dengan berbagai jenis bahasa.

by Lilis Nihwan



Artikel-artikel Penting lainnya


Strategi Membuat Lead

Strategi Membuat Judul

Stretegi Menutup Artikel

Menyiasati Peluang Diterbitkan (1)

Menyiasati Peluang Diterbitkan (2)

Menyiasati Peluang Diterbitkan (3)

Membuat Naskah Buku yang Berkualitas

Penulis Buku yang Baik Adalah Pembaca yang Baik

Tradisi Menulis Saudara Dekat Tradisi Membaca

Mengatasi Keenganan Membaca

88 Soal Jawab Jurnalistik (1)

88 Soal Jawab Jurnalistik (2)

88 Soal Jawab Jurnalistik (3)

88 Soal Jawab Jurnalistik (4)

88 Soal Jawab Jurnalistik (5)

Menjadi Penulis Milyarder

Kaya Raya dari Internet

Belajar Dasar-dasar Bisnis Internet

Artikel Pertama



 


Bagaimana seorang penulis mampu menjadi MILYARDER?

Artikel-artikel GRATIS Menjadi Jutawan di Bisnis Online

Artikel-artikel GRATIS Menjadi Jutawan di Bisnis Konfensional