|
dan misinya dalam bidang-bidang tersebut sehingga penulis tidak
perlu menebak atau mengira-ngira lagi misi dan visi seperti apa
yang diemban media tersebut.
Mengapa harus ada visi dan misi? Sebuah koran atau majalah didirikan
dengan sebuah idealisme dan cita-cita. Idealisme dan cita-cita koran
atau majalah tentu berbeda antara yang satu dengan yang lainnya.
Konsekuensinya, masing-masing perusahaan surat kabar akan mempunyai
sasaran pembaca sesuai dengan idealisme yang dibangunnya.
Sebagai contoh, ada sebuah koran yang mempunyai sasaran pembacanya
adalah kelompok pengusaha, ekonom, dan merreka yang berkecimpung
di sekitar dunia bisnis, misalnya harian Bisnis Indonesia (di Jakarta),
Harian Neraca (di Jakarta), harian Suara Indonesia (di Surabaya).
Ada pula sebuah koran yang diperuntukan bagi masyarakat secara umum
dan jangkauan pembacanya bersifat nasional, sebagai contoh, Kompas,
Republika, Suara karya, Pelita dan lain-lain.
Sebagian koran yang lain diterbitkan untuk memenuhi segmen pembaca
yang bersifat lokal, atau terbatas satu daerah tertentu, misalnya
harian Jayakarta untuk daerah DKI dan sekitarnya, harian Kedaulatan
Rakyat untuk Daerah Istimewa Yogyakarta, harian Pikiran Rakyat untuk
wilayah jawa Barat dan masih banyak lagi.
Aneka ragam jenis dan sasaran sebuah koran menyebabkan pihak redaktur
di sebuah koran mempunyai policy tersendiri untuk menampilkan tulisan-tulisan
bagi para pembacanya. Maka lahirlah apa yang disebut visi dan misi
pada masing-masing media massa. Namun kebanyakan surat kabar atau
majalah tidak mengkhususkan dalam bidang tertentu sehingga sulit
ditebak atau diperkirakan isinya. Dalam hal ini seorang penulis
dituntut untuk jeli dalam melihat apa yang diemban surat kabar atau
majalah tersebut. Dengan kata lain, seorang penulis harus cermat
melihat, artikel seperti apa yang diinginkan media cetak tersebut.
Biasanya permasalahan ini menjadi kendala bagi penulis pemula.
Jika diumpamakan sebuah koran adalah sebuah toko, maka jenis toko
biasanya bermacam-macam. Ada toko besi, toko lain, toko kue dan
sebagainya. Sebagaimana layaknya sebuah toko, pemilik toko biasanya
membutuhkan dagangan untuk dijual kepada pembelinya. Sebuah toko
besi tentu hanya akan menerima dagangan-dagangannya yang berkaitan
dengan barang-barang yang berupa besi dan sejenisnya. Ia tidak akan
menerima dagangannya berupa kain atau kue. Demikian halnya dengan
media massa. Ia hanya akan menerima tulisan-tulisan yang sesuai
dengan visi serta misi media yang diembannya.
Memang untuk mengetahui visi dari sebuah media massa bukanlah pekerjaan
yang gampang . Diperlukan pengamatan yang ciukup dan mungkin akan
memakan waktu lama. Akan tetapi dengan mengetahui masing-masing
visi yang ada pada media massa akan sangat membantu seorang penulis
untuk dapat memilih media mana yang sesuai dengan masalah-masalah
yang ditulisnya dan media mana yang kurang sesuai.
Cara sederhana yang mungkin dapat dilakukan untuk mengetahui visi
dan misi koran antara lain, pertama, mencari informasi pada para
penulis yang sudah sering menulis di salah satu media. Kedua, mengamatio
sendiri, misalnya dengan berlangganan satu koran kemudian dipelajari
model-model tulisan yang ada di dalamnya. Ketiga, berdasarkan pengalaman.
Di sini penulis terjun langsuing, dengan cara terus menerus menulis
pada beberapa media yang diinginkan. Jika tulisan tidak dimuat atau
biasanya kemudian dikembalikan, itu pertanda tulisan itu tidak sesuai
dengan keinginan redaktur. Dan jika hal ini dilakukan terus-menerus,
seorang penulis akan menjadi tahu jenis-jenis tulisan mana yang
sesuai dengan koran dan mana yang tidak sesuai. Akan tetapi perlu
diingat, sebuah tulisan yang tidak diomuat belum tentu tidak sesuai
dengan visi sebuah koran, bisa jadi hal tersebut disebabkan oleh
banyaknya penulis yang menulis pada satu persoalan yang dianggap
sama. Sehingga dengan terpaksa tulisan kita yang dikalahkan. Atau
barangkali ada sebab-sebab lain.
Diantara sejumlah masalah yang menjadi pertimbangan bagai redaktur
sebuah koran untuk dimuatnya sebuah tulisan, antara lain, tema atau
topik tulisan , gaya bahasa, keaktualan persoalan yang dibahas,
kesesuaian isi atau materi tulisan dengan latar belakang keilmuan
penulis, dan sebagainya. Dengan mengetahui kodel-model tulisan yang
disukai atau menjadi visi berbagai macam koran , berarti memberi
peluang lebih besar untuk dapat dimuatnya tulisan-tulisan yang kita
buat. (Ahmad Bahar: 1996).
Dengan mengetahui visi dan misi suatu media, seorang penulis sudah
bisa menghemat tenaga dan mengefisienkan waktu. Karena jika artikel
salah kirim, bukan saja rugi waktu tapi juga rugi tenaga dan uang.
Untuk iu selayaknya sebelum artikel dibuat, seorang penulis harus
pandai memprediksi, kemana artikel tersebut nantinya dikirim. Bahkan
seorang penulis profesional bukan hanya sebatas mengetahui visi
dan misi suatu media, tetapi gaya bahasa dan model judul suatu media
sudah berada dalam pikirannya. Hal ini memang sulit untuk penulis
pemula, namun jika rajin mengamati setiap media cetak dan terbiasa
membuat artikel, lambat laun akan memahaminya.
4.
Strategi Pengiriman Tulisan
Tidak jarang tulisan yang secara isi pantas dimuat, namun kemudian
dikembalikan, karena tidak mungkin memuatnya pada waktu yang tepat
berhubung terbatasnya ruang atau berbenturan dengan tulisan lain,
yang dipandang redaksi lebih baik.
Untuk lebih memperbesar kemungkianan pemuatan tulisan kita di media
massa, maka selain kita memperhatikan moment yang tepat, hendaknya
kita juga tidak cuma membuat kemudian menunggu satu tulisan. Buatlah
terus beberapa tulisan yang berbeda-beda, sebarkan ke berbagai media
massa. Untuk pemilihan medianya sendiri, bagi pemula ada baiknya,
yang skupnya lokal terlebih dulu, dengan bonaviditas memilih mulai
yang paling rendah.
Ada beberapa keuntungan penulis pemula mengirimkan tulisannya kemedia
lokal, atau media yang masih berkembang, diantaranya:
a. Saingan tidak terlalu banyak dan tidak terlalu berat;
b. Redaksi juga lebih banyak kesempatan untuk membantu mengkoreksi
tulisan kita
c. Peluang pemuatan akan lebih besar. Sementara dengan dimuatnya
tulisan kita, tentu akan menambah motivasi baru untuk lebih produktif
lagi dan lebih berkualis lagi dalam menulis.
by
Aef Kusnawan
|