|
menarik. Karenanya, bahasa perlu diolah sedemikian rupa agar ketika
naskah dibaca, terasa enak, mengalir, mudah dicerna, dan mengasyikkan,
serta merangsang nalar.
Untuk membuat sebuah bahasa yang mampu merangsang nalar, maka, 1)
susunan kalimat dan gerombolannya harus logis. 2) seluruh kalimatnya
diupayakan memiliki diksi (pilihan kata) yang indah dan menggairahkan.
3) penyajian keseluruhan bahasa memiliki koherensi (keterkaitan)
dan komposisi (ketersusunan) yang selain harmonis juga menyimpulkan.
Kedua, mengemas “daya pikat”. Sebuah
buku, dikatakan berkualitas, selain karena materinya oke, bahasanya
tertata dengan baik, juga karena tampilan bukunya yang memikat.
Untuk naskah buku, tak banyak yang bisa diperbuat oleh penulis untuk
mengemas daya pikat. Pihak penerbit yang banyak berperan.
Tapi, membuat judul yang “menggigit”, satu dari banyak
hal yang bisa dilakukan oleh penulis untuk mendongkrak kualitas
naskah buku. Perhatikan buku-buku yang berhasil best seller, judul-judulnya
menggigit bukan? Bahkan acapkali judulnya lebih “menggigit”
ketimbang isi buku itu sendiri.
Dalam sebuah acara diskusi buku Seks In The Kost di Aula Fakultas
Psikologi Unair Surabaya, Iip Wijayanto pernah diprotes dengan judul
bukunya itu yang teramat provokatif. Isi buku itu dinilai beda jauh
dengan judulnya. Karenanya Iip dituding hanya mengejar keuntungan.
Dari aspek judul, buku-buku Iip memang cukup kontroversial. Di antaranya,
97,05 Persen (hasil penelitian tentang virginitas mahasiswi Jogja),
Seks In The Kost, Seks Kalangan Terpelajar, dan Kampus Fresh Chiken.
Tapi kalau membaca isinya, buku-buku itu lebih kepada analisis seks
menggunakan ilmu tasawuf.
Apa kata Iip? Iip mengaku sengaja memilih judul-judul yang kontroversial
dan komersial. Bagi Iip, judul buku yang “heboh” itu
adalah strategi saja. Karena, menurutnya, kalau judul bukunya mengandung
unsur religius, maka pangsa pembacanya hanya kalangan tertentu.
Judul-judul yang “heboh” merupakan strategi agar pesan
dakwah sampai ke banyak kalangan.
Maka, tak heran bila buku-buku Iip dapat menembus angka penjualan
yang lumayan spektakuler. Buku Seks In The Kost-nya Iip misalnya,
terjual 20.000 eksemplar pada dua bulan pertama.
Terlepas dari benar-tidaknya apa yang dilakukan Iip, “kasus”
judul-judul Iip yang kontroversial, memberi pelajaran kepada kita
pentingnya membuat judul yang “menggigit”. ***
by
Badiatul Muchlisin Asti
|