|
Pernah Anda melihat kendi ? Benda yang sederhana dan terbuat dari
tanah liat yang dibakar itu ternyata menyimpan sebuah teori yang
sangat penting, khususnya mengenai menulis buku.
Sebuah kendi, ada kalanya diisi air. Namun, kadang juga airnya ditumpahkan
untuk diminum. Kendi itu akan tumpah airnya seandainya dimasuki
air terus-menerus. Lalu apa hubungannya antara kendi dengan menulis
buku ?
Menulis buku pun tidak jauh berbeda dengan kendi. Diibaratkan kendi
itu adalah tubuh manusia. Seseorang yang jenius sekalipun tidak
akan bisa menulis buku kalau tak pernah memberi “air”
dalam “kendinya”. Air itu adalah ilmu, pengetahuan,
data, informasi, pengalaman, pengamatan, dan lain-lain. Tentu kita
tidak akan bisa menulis buku tentang “pendidikan seks Islami”,
misalnya, apabila kita tak pernah menyerap ilmu, pengetahuan, informasi,
tentang hal itu.
Serupa dengan teori kendi adalah “teori ember” yang
dikemukakan oleh YB. Mangunwijaya. Dalam wawancara dengan majalah
sastra Horison (XXI/365-367) YB. Mangunwijaya mengatakan yang intinya
adalah, bahwa penulis itu ibarat ember yang penuh berisi air. Jika
ember ini diisi air lagi, pasti ada air yang akan luber. Penulis
diandaikan penuh (secara relatif) oleh pengetahuan, apa pun itu.
Kalau ia “diisi” (dalam arti membaca) pasti lama-lama
akan ada “luber”, maksudnya dibagikan kepada khalayak
ramai melalui karya tulisan.
2. Penulis (Buku) yang Baik adalah Pembaca (Buku) yang Baik
Pula
Untuk itu, tradisi membaca memang merupakan tradisi yang tak bisa
ditawar-tawar lagi bagi seorang calon penulis buku. Seorang penulis
(buku) yang baik tentu adalah juga seorang pembaca (buku) yang baik
pula. Karena seorang penulis buku haruslah seorang yang kaya wawasan.
Menulis buku berarti memberi informasi atau wawasan kepada masyarakat.
Sehingga seorang penulis buku haruslah “lebih pandai”
dari pembacanya.
Dengan tradisi membaca pula, banyak pengetahuan yang akan didapat
dan wawasan pun akan kian luas membentang. Pengetahuan yang banyak
dan wawasan yang luas adalah “bahan baku utama” yang
siap “dimasak” menjadi aneka buku yang akan dinikmati
masyarakat. Dengan banyak membaca pula seorang penulis akan selalu
produktif menghasilkan karya dan tidak akan kehabisan ide.
by
Badiatul Muchlisin Asti
|