|
Kegemaran atau kegilaan membaca pada masa kecil itulah, rupanya
yang kelak memberi manfaat terhadap proses menulisnya. Keakrabannya
dengan buku, menjadikan tulisannya mengalir dan gagasannya tertuang
rapi.
Debut kepenulisan Fauzil yang lahir 29 Desember 1972 di Mojokerto,
Jawa Timur ini dimulai sejak SD kelas V. Saat SMP, sudah bisa membuat
cerpen. Cerpennya pertama dimuat di Koran Surabaya Minggu dengan
judul Melewati Kabut Cinta. Buku pertama Fauzil terbit ketika ia
masih kuliah di semester empat. Judulnya Mengajar Anak Anda Mengenal
Allah (1994) yang diterbitkan Mizan. Buku keduanya berjudul Mendidik
Anak Menuju Taklif terbit tahun 1996 oleh penerbit Pustaka Pelajar.
Setahun kemudian, muncul bukunya yang best seller berjudul Kupinang
Engkau dengan Hamdalah. Hingga kini Fauzil sudah menulis sekitar
20 judul buku, hampir semua tentang pendidikan anak dan keluarga.
Buku terakhir Fauzil berjudul Indahnya Pernikahan Dini (2002) dan
Agar Cinta Bersemi Indah (2002), keduanya diterbitkan penerbit Gema
Insani Press.
Contoh lainnya adalah Ahmad Thohari. Sastrawan kelahiran Tinggarjawya
Kecamatan Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1942 ini juga dikenal suka
membaca sejak kecil. Sejak kecil Thohari sudah terbiasa membaca
koran sebelum masuk Sekolah Dasar. Ia juga suka membaca komik-komik
wayang. Ketika duduk di bangku SMP, ia sudah melahap buku-buku novel
klasik Indonesia seperti: Belenggu, Atheis, Salah Asuhan, Layar
Terkembang, Azab dan Sengsara, Di Bawah Lindungan Ka’bah,
dan lain sebagainya.
Kegemaran Thohari membaca itulah yang kelak juga menjadi basic ia
menjadi penulis (fiksi/novel) yang sukses. Nama Ahmad Thohari sebagai
penulis sastra saat ini tidak hanya dikenal masyarakat Indonesia
saja, tapi juga masyarakat Internasional.
Trilogi novelnya Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dinihari
(1984), dan Jantera Bianglala (1985) telah diterjemahkan dalam 5
bahasa dunia. Karya-karya Thohari lainnya, Di Kaki Bukit Cibalak
(1979), Kubah (1981), Bekisar Merah (1992) telah diterjemahkan dalam
bahasa Jepang. Selain novel, peserta International Writing Program
Iowa, USA, tahun 1969, dan mantan Redaktur Amanah (1986-1993) ini
juga melahirkan kumpulan cerpen semisal Senyum Karnyamin, juga kumpulan
kolom antara lain Berhala Kontemporer, Mas Mantri Menjenguk Tuhan,
Mas Mantri Menggugat, serta Kamus Dialek Banyumas-Indonesia. Dan
masih banyak karya Ahmad Thohari yang lain.
Contoh lainnya lagi adalah Al-Chaidar. Penulis buku yang cukup produktif
ini, sejak kecil juga “gila” membaca. Sejak SMP, Chaidar
yang kelahiran Lhokseumawe, Aceh, 22 November 1969 itu sudah gemar
membaca buku-buku berat seperti filsafat. Di sekolah menengah pertama
itu ia sudah lahap membaca buku-buku karya Ali Syari’ati,
Sayyed Hussein Nasr, maupun Fazlurrahman. Ketika duduk di bangku
SMA, minat baca Chaidar semakin menggila. Buku-buku seperti Madilog
(Materialisme, Dialektika, Logika) karya Tan Malaka dan buku Das
Kapital karya Karl Marx begitu lahap disantapnya. “Kegilaan”
membaca itu pula kelak yang mengantarkan Chaidar dikenal sebagai
penulis buku produktif.
Ketika SMP, Al-Chaidar sudah membuat album puisi sendiri. Bahkan
ketika kelas II SMP, Chaidar sudah berani melempar tulisannya ke
majalah Prisma, majalah dengan tulisan-tulisan berat yang dikenal
sebagai standar prestise para intelektual Indonesia. Kendati tulisannya
hanya dimasukkan dalam rubrik “komentar dan kritik”,
tak urung itu membuatnya senang dan semakin aktif menulis. Kebiasaan
menulis itu dilanjutkan ke berbagai Koran daerah seperti harian
Analisa, Bukit Barisan, dan Waspada.
Sekarang, peneliti di Lembaga Studi Pengkajian Etika dan Usaha (LSPEU)
ini masih rajin menulis artikel di media massa nasional, selain
itu juga menulis banyak buku. Banyak buku yang telah lahir dari
“tangan kreatif” Al-Chaidar. Di antaranya, tahun 1998
Chaidar menelorkan buku berjudul Reformasi Prematur. Tak terpaut
lama, muncul buku-buku yang lain yang ia luncurkan tepat waktu.
Bukunya berjudul Wacana Ideologi Negara Islam, Aceh Bersimbah Darah
muncul setelah kasus DOM Aceh mulai terkuak. Bahkan bukunya Pemilu
1999, Pertarungan Ideologis Partai-partai Islam dan Partai Sekuler
muncul menjelang kampanye Mei 1999. Karya lain Chaidar adalah Pengantar
Politik Kartosoewiryo, Federasi atau Disentegrasi (2000), NU, ICMI
dan DI, Islam Kultural Islam Politik Islam Radikal di Medan Laga
Politik Indonesia (2000), dan lain-lain.
Harap diketahui, semua buku yang ditulis Chaidar disertai catatan
kaki yang cukup lengkap dari berbagai bahasa. Itu pun dikerjakan
dengan memakan waktu rata-rata satu bulan. Menurut Zulkarnaen, editor
buku-buku Chaidar, rata-rata buku Chaidar mengalami cetak ulang
6 kali. Bahkan buku Chaidar berjudul Pengantar Politik Kartosoewiryo
dalam tempo singkat, yakni 2 minggu, sudah cetak ulang tiga kali.
Masih ada banyak contoh lagi yang bisa disebut di sini. Tapi cukuplah
tiga penulis di atas sebagai contoh, betapa tradisi membaca yang
kuat telah mengantarkan mereka menjadi penulis yang sukses. Anda
pengin menjadi penulis sukses? Bila Anda belum suka membaca, saatnya
Anda mulai membangun tradisi membaca yang kuat dalam hidup Anda.
Kelak, kendati Anda tak bisa menjadi penulis sukses pun, tradisi
membaca yang telah Anda bangun tak akan membuat Anda rugi. Bahkan
malah akan membuat hidup Anda semakin bermakna. Percayalah!
by
Badiatul Muchlisin Asti
|