Membangun Tradisi Membaca, Kunci Utama Menjadi Penulis Buku (2)

 


Tradisi Menulis Saudara Dekat Tradisi Mambaca

Ads by Google

Rasanya bukan merupakan kebetulan bila hampir semua (untuk tidak menyebut semua) penulis buku (atau non-buku) adalah memiliki tradisi atau paling tidak memiliki hobi membaca yang kuat.

Sebut saja Mohammad Fauzil Adhim sekadar sebagai contoh. Penulis muda yang populer sebagai “penulis spesialis pernikahan” ini adalah seorang pembaca buku yang kuat. Ketika kecil Fauzil diperkenalkan ibunya bacaan-bacaan menarik, hingga membuat Fauzil jadi keranjingan membaca. Buntutnya, pada usia sekolah dasar, Fauzil bahkan sudah tak mau lagi membaca majalah anak-anak. Bacaannya saat itu adalah buku-buku yang terhitung berat untuk anak seusianya, misalnya buku-buku filsafat dan sejenisnya. Majalah-majalah berita, semisal Tempo dan Panji Masyarakat, menjadi pilihannya.

Tak hanya itu, ia pun melahap kitab-kitab agama lain, seperti Injil dan telaah-telaah kitab Wedha. Alhamdulillah, ada sang kakek yang mengarahkan apa yang dibaca cucunya itu. Sehingga Fauzil tak bingung dan terjerumus pada pikiran-pikiran yang ada pada bacaan ‘kelas beratnya’.


Kegemaran atau kegilaan membaca pada masa kecil itulah, rupanya yang kelak memberi manfaat terhadap proses menulisnya. Keakrabannya dengan buku, menjadikan tulisannya mengalir dan gagasannya tertuang rapi.

Debut kepenulisan Fauzil yang lahir 29 Desember 1972 di Mojokerto, Jawa Timur ini dimulai sejak SD kelas V. Saat SMP, sudah bisa membuat cerpen. Cerpennya pertama dimuat di Koran Surabaya Minggu dengan judul Melewati Kabut Cinta. Buku pertama Fauzil terbit ketika ia masih kuliah di semester empat. Judulnya Mengajar Anak Anda Mengenal Allah (1994) yang diterbitkan Mizan. Buku keduanya berjudul Mendidik Anak Menuju Taklif terbit tahun 1996 oleh penerbit Pustaka Pelajar. Setahun kemudian, muncul bukunya yang best seller berjudul Kupinang Engkau dengan Hamdalah. Hingga kini Fauzil sudah menulis sekitar 20 judul buku, hampir semua tentang pendidikan anak dan keluarga. Buku terakhir Fauzil berjudul Indahnya Pernikahan Dini (2002) dan Agar Cinta Bersemi Indah (2002), keduanya diterbitkan penerbit Gema Insani Press.

Contoh lainnya adalah Ahmad Thohari. Sastrawan kelahiran Tinggarjawya Kecamatan Jatilawang, Banyumas, 13 Juni 1942 ini juga dikenal suka membaca sejak kecil. Sejak kecil Thohari sudah terbiasa membaca koran sebelum masuk Sekolah Dasar. Ia juga suka membaca komik-komik wayang. Ketika duduk di bangku SMP, ia sudah melahap buku-buku novel klasik Indonesia seperti: Belenggu, Atheis, Salah Asuhan, Layar Terkembang, Azab dan Sengsara, Di Bawah Lindungan Ka’bah, dan lain sebagainya.

Kegemaran Thohari membaca itulah yang kelak juga menjadi basic ia menjadi penulis (fiksi/novel) yang sukses. Nama Ahmad Thohari sebagai penulis sastra saat ini tidak hanya dikenal masyarakat Indonesia saja, tapi juga masyarakat Internasional.

Trilogi novelnya Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dinihari (1984), dan Jantera Bianglala (1985) telah diterjemahkan dalam 5 bahasa dunia. Karya-karya Thohari lainnya, Di Kaki Bukit Cibalak (1979), Kubah (1981), Bekisar Merah (1992) telah diterjemahkan dalam bahasa Jepang. Selain novel, peserta International Writing Program Iowa, USA, tahun 1969, dan mantan Redaktur Amanah (1986-1993) ini juga melahirkan kumpulan cerpen semisal Senyum Karnyamin, juga kumpulan kolom antara lain Berhala Kontemporer, Mas Mantri Menjenguk Tuhan, Mas Mantri Menggugat, serta Kamus Dialek Banyumas-Indonesia. Dan masih banyak karya Ahmad Thohari yang lain.

Contoh lainnya lagi adalah Al-Chaidar. Penulis buku yang cukup produktif ini, sejak kecil juga “gila” membaca. Sejak SMP, Chaidar yang kelahiran Lhokseumawe, Aceh, 22 November 1969 itu sudah gemar membaca buku-buku berat seperti filsafat. Di sekolah menengah pertama itu ia sudah lahap membaca buku-buku karya Ali Syari’ati, Sayyed Hussein Nasr, maupun Fazlurrahman. Ketika duduk di bangku SMA, minat baca Chaidar semakin menggila. Buku-buku seperti Madilog (Materialisme, Dialektika, Logika) karya Tan Malaka dan buku Das Kapital karya Karl Marx begitu lahap disantapnya. “Kegilaan” membaca itu pula kelak yang mengantarkan Chaidar dikenal sebagai penulis buku produktif.
Ketika SMP, Al-Chaidar sudah membuat album puisi sendiri. Bahkan ketika kelas II SMP, Chaidar sudah berani melempar tulisannya ke majalah Prisma, majalah dengan tulisan-tulisan berat yang dikenal sebagai standar prestise para intelektual Indonesia. Kendati tulisannya hanya dimasukkan dalam rubrik “komentar dan kritik”, tak urung itu membuatnya senang dan semakin aktif menulis. Kebiasaan menulis itu dilanjutkan ke berbagai Koran daerah seperti harian Analisa, Bukit Barisan, dan Waspada.

Sekarang, peneliti di Lembaga Studi Pengkajian Etika dan Usaha (LSPEU) ini masih rajin menulis artikel di media massa nasional, selain itu juga menulis banyak buku. Banyak buku yang telah lahir dari “tangan kreatif” Al-Chaidar. Di antaranya, tahun 1998 Chaidar menelorkan buku berjudul Reformasi Prematur. Tak terpaut lama, muncul buku-buku yang lain yang ia luncurkan tepat waktu. Bukunya berjudul Wacana Ideologi Negara Islam, Aceh Bersimbah Darah muncul setelah kasus DOM Aceh mulai terkuak. Bahkan bukunya Pemilu 1999, Pertarungan Ideologis Partai-partai Islam dan Partai Sekuler muncul menjelang kampanye Mei 1999. Karya lain Chaidar adalah Pengantar Politik Kartosoewiryo, Federasi atau Disentegrasi (2000), NU, ICMI dan DI, Islam Kultural Islam Politik Islam Radikal di Medan Laga Politik Indonesia (2000), dan lain-lain.

Harap diketahui, semua buku yang ditulis Chaidar disertai catatan kaki yang cukup lengkap dari berbagai bahasa. Itu pun dikerjakan dengan memakan waktu rata-rata satu bulan. Menurut Zulkarnaen, editor buku-buku Chaidar, rata-rata buku Chaidar mengalami cetak ulang 6 kali. Bahkan buku Chaidar berjudul Pengantar Politik Kartosoewiryo dalam tempo singkat, yakni 2 minggu, sudah cetak ulang tiga kali.

Masih ada banyak contoh lagi yang bisa disebut di sini. Tapi cukuplah tiga penulis di atas sebagai contoh, betapa tradisi membaca yang kuat telah mengantarkan mereka menjadi penulis yang sukses. Anda pengin menjadi penulis sukses? Bila Anda belum suka membaca, saatnya Anda mulai membangun tradisi membaca yang kuat dalam hidup Anda. Kelak, kendati Anda tak bisa menjadi penulis sukses pun, tradisi membaca yang telah Anda bangun tak akan membuat Anda rugi. Bahkan malah akan membuat hidup Anda semakin bermakna. Percayalah!

by Badiatul Muchlisin Asti



Artikel-artikel Penting lainnya


Strategi Membuat Lead

Strategi Membuat Judul

Stretegi Menutup Artikel

Menyiasati Peluang Diterbitkan (1)

Menyiasati Peluang Diterbitkan (2)

Menyiasati Peluang Diterbitkan (3)

Membuat Naskah Buku yang Berkualitas

Penulis Buku yang Baik Adalah Pembaca yang Baik

Tradisi Menulis Saudara Dekat Tradisi Membaca

Mengatasi Keenganan Membaca

88 Soal Jawab Jurnalistik (1)

88 Soal Jawab Jurnalistik (2)

88 Soal Jawab Jurnalistik (3)

88 Soal Jawab Jurnalistik (4)

88 Soal Jawab Jurnalistik (5)

Menjadi Penulis Milyarder

Kaya Raya dari Internet

Belajar Dasar-dasar Bisnis Internet

Artikel Pertama



 


Bagaimana seorang penulis mampu menjadi MILYARDER?

Artikel-artikel GRATIS Menjadi Jutawan di Bisnis Online

Artikel-artikel GRATIS Menjadi Jutawan di Bisnis Konfensional