| Dalam
bahasa Hernowo di bukunya Andaikan Buku Itu Sepotong Pizza, gizi
membaca buku melebihi ceramah atau hal-hal lain yang diperoleh dari
telinga (mendengar) dan mata (melihat). Sebab, hanya lewat membaca
bukulah kita mampu menumbuhkan saraf-saraf di kepala kita.
Dan, manfaat lainnya, membaca buku akan membuat seseorang tetap
berpikir. Seorang peneliti dari Hanry Ford Health System bernama
Dr. C. Edward Coffey, sebagaimana dikutip Hernowo, membuktikan bahwa
hanya dengan membaca buku, seseorang akan terhindar dari penyakit
demensia.
Demensia adalah nama penyakit yang merusak jaringan otak. Apabila
seseorang terserang demensia, dapat dipastikan akan mengalami kepikunan
atau (dalam bahasa remaja disebut) “tulalit”.
Menurut penelitian Coffey, pendidikan (salah satu pendidikan termudah
adalah membaca buku) dapat menciptakan semacam lapisan penyangga
yang melindungi dan mengganti-rugi perubahan otak. Hal itu dibuktikan
dengan meneliti struktur otak 320 orang berusia 66 tahun hingga
80 tahun yang tak terkena demensia.
Lalu bagaimana mengatasi keengganan membaca? Hernowo yang kini menjabat
General Manajer Editorial Penerbit Mizan mempunyai kiat-kiat jitu.
Dalam bukunya Andaikan Buku Sepotong Pizza ia mengungkapkan kiat-kiat
itu. Berikut ini intisari kiat-kiat itu.
1.
Mengubah Paradigma Membaca : Menganggap Buku Sebagai Makanan
“Kunci” untuk membuka gembok keengganan membaca buku
adalah paradigma. Apa itu paradigma ? Paradigma adalah kacamata.
Paradigma adalah cara kita memandang sesuatu.
Bayangkan Anda memiliki kacamata minus 2. Lima tahun kemudian, Anda
harus mengganti kacamata Anda dengan kacamata minus 3. Namun, Anda
bersikukuh tak mau mengganti kacamata minus 2 Anda. Apa yang terjadi
? Anda akan merasa pusing apabila melihat sesuatu. Inilah akibat
yang timbul karena Anda mempertahankan paradigma kacamata minus
2 Anda.
Apa ya paradigma Anda berkaitan dengan membaca buku? Mungkin ini:
“Wah, boring deh baca buku yang tebal-tebal itu.” Atau
ini: “Setiap kali baca buku ilmiah, saya pasti ngantuk.”
“Saya pilih nonton sinetron aja deh ketimbang baca buku. Baca
buku bikin kepala cepat botak!”
Itulah paradigma—atau kacamata yang Anda gunakan—dalam
membaca buku. Nah, untuk memasuki dunia buku, kita perlu mengubah
paradigma (atau kaca mata) dalam memandang buku. Buku sama saja
dengan makanan, yaitu makanan untuk ruhani kita. Bayangkan apabila
jasmani kita tidak diberi nasi, telur, daging ayam, dan makanan
bergizi tinggi lainnya. Apa yang akan terjadi. Tubuh kita akan loyo
dan sakit-sakitan.
Demikian jugalah yang terjadi dengan ruhani kita. Buku adalah salah
satu jenis “makanan ruhani” kita yang sangat bergizi.
Mendengarkan pengajian dan ceramah adalah juga sebentuk “makanan
ruhani”. Namun, buku kadang memiliki gizi lebih dibandingkan
ceramah.
Lewat paradigma-baru membaca buku—dengan menganggap buku sebagai
makanan—kita dapat memperlakukan buku laiknya makanan kesukaan
kita. Pertama, agar membaca buku tidak lantas membuat kita mengantuk,
pilihlah buku-buku yang memang kita sukai, sebagaimana Anda memilih
makanan yang Anda gemari.
Kedua, cicipilah “kelezatan” sebuah buku sebelum membaca
semua halaman. Anda dapat mengenali lebih dahulu siapa pengarang
buku tersebut. Atau, Anda bisa bertanya kepada seseorang yang menganjurkan
Anda untuk membaca sebuah buku (misalnya guru, orangtua, atau sahabat
Anda). Mintalah mereka untuk menunjukkan lebih dahulu hal-hal yang
menarik yang ada di buku itu.
Ketiga, bacalah buku secara ngemil (sedikit demi sedikit, laiknya
Anda memakan kacang goreng). Apabila Anda bertemu dengan buku ilmiah
setebal 300 halaman, ingatlah bahwa tidak semua halaman buku itu
harus dibaca. Cari saja halaman-halaman yang menarik dan bermanfaat.
Anda dapat ngemil membaca pada pagi hari sebanyak 5 halaman. Nanti,
pada sore hari, tambah 10 halaman.
2.
Membaca dengan Gaya SAVI
Apabila Anda sudah mengubah paradigma membaca buku Anda—bahwa
membaca buku seperti memakan pizza—cobalah mulai membaca buku-buku
ilmiah saat ini juga. Untuk mempermudah Anda dalam membaca buku,
Dave Maier dalam bukunya The Accelerated Learning Handbook, menyajikan
tip-tip menarik.
Meier menamai tip-tipnya ini “metode belajar gaya SAVI”.
SAVI adalah singkatan dari Somatis (bersifat raga/tubuh), Auditori
(bunyi), Visual (gambar), dan Intelektual (merenungkan). Nah, silahkan
menggunakan gaya SAVI dalam membaca sebuah buku, sebagaimana petunjuk
berikut.
Pertama, membaca secara Somatis. Ini berarti, pada saat membaca,
cobalah Anda tidak hanya duduk. Berdiri atau berjalan-jalanlah saat
membaca buku. Gerakkan tubuh Anda saat membaca. Misalnya, setelah
membaca 5 atau 7 halaman, berhentilah sejenak. Gerakkan tangan,
kaki, dan kepala Anda. Setelah itu, baca kembali buku Anda.
Kedua, membaca secara Auditori. Cobalah sesekali membaca dengan
menyuarakan apa yang Anda baca itu (dijaharkan). Lebih-lebih bila
Anda menjumpai kalimat-kalimat yang sulit dicerna. Insya Allah,
telinga Anda akan membantu mencernanya.
Ketiga, membaca secara Visual. Ini berkaitan dengan kemampuan dahsyat
Anda yang bernama imajinasi atau kekuatan membayangkan. Cobalah
bayangkan saat Anda membaca sebuah konsep atau gagasan. Kalau perlu,
gambarlah! Ini, insya Allah, juga akan mempercepat pemahaman Anda.
Keempat, membaca secara Intelektual. Ini juga berkaitan dengan kemampuan
luar biasa Anda. Anda perlu jeda atau berhenti sejenak setelah membaca.
Dan renungkanlah manfaat yang Anda peroleh dari pembacaan Anda.
Akan lebih bagus apabila—saat merenung itu—Anda juga
mencatat hal-hal penting yang Anda peroleh dari halaman-halaman
sebuah buku. Insya Allah, Anda akan dimudahkan dalam menuangkan
atau menceritakan kembali apa-apa yang Anda baca.
Kiat-kiat di atas hanyalah beberapa petunjuk praktis yang diharapkan
dapat membantu memotivasi Anda untuk tak lagi enggan membaca buku.
Agar hasilnya lebih bagus, penguatan internalisasi akan pentingnya
membaca dalam kehidupan harus dilakukan. Agar pembacaan Anda lebih
bermakna. Sehingga aktivitas membaca akan lebih langgeng dan bukan
semata bertujuan karena Anda ingin menjadi seorang penulis buku.
Dorongan ingin (menjadi) penulis buku, dengan demikian, hanya satu
saja dari sekian dampak positif yang akan Anda dapatkan dengan tradisi
membaca yang kuat. Itu pun harus diniati, menulis bukunya untuk
berdakwah: menyampaikan kebenaran, mengajak manusia kepada jalan
yang lurus, dan menghindarkan manusia dari jalan hidup yang sesat.
Untuk itu, mari kita baca dan tafakkuri kembali wahyu pertama Surat
Al-‘Alaq ayat 1-5 agar kita senantiasa mengingat bahwa aktivitas
membaca adalah pesan penting pertama Al-Quran yang sudah selayaknya
kita sambut untuk menjadi bagian dalam hidup kita.
“Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang Menciptakan.
Dia telah Menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan
Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan
kalam. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1-5).***
by
Badiatul Muchlisin Asti
|