| Dalam
artikel nonfiksi, kalimat pembuka ini disebut lead. Baik pembuka
karangan dalam artikel fiksi atau lead dalam artikel nonfiksi, keduanya
mendapatkan kesulitan yang sama. Kadang seorang penulis profesional
menyarankan agar tulis saja apa yang ada dalam pikiran saat itu,
nanti juga akan menemukan korelasi dengan bahasan yang sedang dibahas
asal jangan terlalu jauh melenceng dari judul atau topik yang dibahas.
Setelah itu, nanti bisa dilihat mana kalimat yang tidak layak dan
harus dipangkas serta mana yang harus dipertahankan.
Khusus untuk artikel nonfiksi, Slamet Raharjo (1997) memberikan
alternatif terbaik untuk mempermudah kalimat pembuka ini, yaitu
:
a. Ringkasan
Pendahuluan berbentuk ringkasan nyata-nyata mengemukakan topik dan
pokok isi tulisan secara garis besar. Tujuannya memberi gambaran
kepada calon pembaca yang akan disajikan dalam tulisan itu nanti.
Kalau ringkasan ini ditulis begitu saja, biasanya terasa kering
dan tidak menarik. Tetapi kalau memulainya dengan sudut pendang
paling menarik, maka ringkasan sebagai lead biasanya akan diperhatikan,
lalu dibaca. Ada lima cara untuk memulai ringkasan, tergantung pada
kapan-nya, dimana-nya, mengapa-nya, ataukah bagaimana-nya?
Kalau yang menarik itu apa-nya, maka yang ini yang dijadikan lead.
(What lead). Misalnya :
Membuat lengkeng berbuah di dataran rendah tidak mudah. Apalagi
Lubang Buaya, Jakarta yang panas hawanya. Namun dengan menggelangi
batang, Soenandar berhasil membuahkan lengkengnya untuk pertama
kali dalam sejarah perkembangan. Kalau yang menarik itu dimana-nya,
maka leadnya diubah sebagai berikut : Di Lubang Buaya, Jakarta yang
panas hawanya, pohon lengkeng yang biasanya hanya mau berbuah di
daerah sejuk itu ternyata bisa disuruh berbuah. Bagaimana caranya?
b. Pernyataan yang menonjol
Lead ini kadang-kadang disebut punch lead (pendahuluan kejutan).
Biasanya diikuti dengan kalimat kekaguman. Ia memang bermaksud membuat
pembaca kagum. Misalnya: Luar biasa! Hans Westernberg, dari Binjai,
Tebingtinggi, panen singkong 70 ton tiap hektar tiap musim. Keberhasilannya
mengantarnya ke Filiphina untuk menerima hadiah Magsaysay tahun
1972.
c. Pelukisan
Pendahuluan yang melukiskan fakta, kejadian atau hal, dengan kata-kata
yang jernih, sering kali menggugah minat baca karena mengajak pembaca
membayangkan bersama penulis, apa-apa yang diceritakan itu. Kadang-kadang
cara melukiskan kejadian itu begitu bagus, sampai lead ini disebut
lead sastra. Misalnya:
Dari jauh saja sudah mempesona, pohon dadap Erythrina variegata
itu, dengan batangnya abu-abu dan bunga merah merona tersebar rata
dipuncaknya. Seperti Buket raksasa saja pesta agung di istana Rahwana
Raja. Dan latar belakangnya biru lazuardi ... Ah! Baiknya Anda melihat
sendiri, pohon dadap itu kalau sedang berbunga.
d. Anekdot/Dongeng/Sejarah
Pendahuluan bersisi anekdot, sering menawan juga karena membuat
tulisan nonfiksi seolah-olah menjadi fiksi. Anekdot (kisah pendek
tentang kejadian penting yang menarik karena aneh atau lucunya)
biasanya memang benar-benar terjadi, sekalipun sering dibumbui tambahan
fiktif. Meskipun kebanyakan subyektif, namun ia menggambarkan beberapa
pokok obyektif tertentu yang dapat dipakai penulis sebagai titik
awal pembicaraan yang berhubungan dengan pokok bahasan. Misalnya:
Ketika pangeran Djajadiningrat dari Banten masih berumur balita
dan akan diberi nama dulu, nama-nama pemberian neneknya dan para
sesepuh yang lain ditulis pada secarik kertas yang kemudian dimasukkan
ke dalam batok kelapa jenggi. Ibunya kemudian mengambil salah satu
kertas yang tergulung dalam batok itu. Setelah kertas pilihannya
dibuka, ternyata bertuliskan nama Achmad. "Karena itu, Achmad-lah,
nama saya." Demikian Pangeran Arya Achmad Djajadiningrat, menuturkan
asal usul namanya.
e. Pertanyaan
Pendahuluan berbentuk pertanyaan yang merangsang keingintahuan merupakan
lead yang bagus, untuk memulai tulisan. Ia menggugah pembaca dan
menolongnya agar mulai berpikir aktif. Misalnya: Anda pernah mendengar
istilah Dutch Wife? Belum, tentunya. Itu bukan istri Belanda. Awalan
dutch (yang selain Belanda juga berarti fancy), menuju ke arah pengertian
"semu". Namun Dutch wife tidak bisa buru-buru ditafsirkan
sebagai istri semu (atau gadungan). Ia hanya berarti guling.
f. Kutipan orang lain/Kitab Suci/Petuah
Pendahuluan berupa kutipan ucapan seseorang (tentunya yang memang
terkenal sudah "mempunyai nama"), dapat langsung menyentuh
rasa pembaca dan sekaligus membawanya ke pokok bahasan yang akan
dikemukakan dalam artikel nanti. Misalnya: Rasulullah saw. bersabda:
"Ilmu itu adalah ruh Islam dan tiangnya iman. Barangsiapa yang
mengajarkan ilmu, maka Allah akan menyempurnakan pahala baginya.
Dan barangsiapa yang mempelajari ilmu lalu mengamalkannya, maka
Allah akan mengajarkan apa-apa yang belum diketahuinya."(HR.
Abu Syeikh).
g. Amanat langsung
Pendahuluan berbentuk amanat (atau pesan) langsung kepada pembaca,
sudah tentu lebih akrab rasanya, karena pembaca perorangan. Penulis
lebih banyak memakai kata "kita" dan "Anda"
dalam tulisannya. Misalnya: Anda sudah pernah menikmati kelezatan
mangga manalagi? Inilah cara-cara bertanam agar menghasilkan buah
yang lezat.
By
Abu Al-Ghifari
|